Garam untuk MPASI, Berapa Takaran yang Sesuai?

Garam untuk MPASI, Berapa Takaran yang Sesuai?

Garam adalah salah satu bahan penyedap yang paling sering digunakan saat memasak, termasuk untuk makanan si kecil yang sudah mulai masuk ke fase MPASI. Tapi apakah garam diperbolehkan untuk bayi yang baru belajar makan? Kalaupun boleh kira-kira berapa ya takaran garam yang diizinkan untuk MPASI? Yuk, simak penjelasannya di artikel berikut!

Aturan Pemberian Garam untuk MPASI

Pada dasarnya bayi yang baru memulai MPASI tidak membutuhkan tambahan garam dalam makanannya. Ini bertujuan agar mereka bisa menikmati rasa asli dari menu makanan yang disajikan.

Alasan lainnya adalah karena ginjal bayi belum berkembang sempurna untuk mencerna garam layaknya orang dewasa. Terlebih lagi bahan makanan yang digunakan untuk membuat MPASI, seperti mentega, daging, keju, kaldu, dan lain sebagainya itu sebenarnya sudah mengandung natrium alami.

Itu sebabnya penambahan garam pada menu MPASI sangat dibatasi. Berikut adalah takaran garam yang diizinkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) per harinya:

  • 6 - 12 bulan: <1 gram garam atau sekitar <0,4 gram natrium
  • 1 - 3 tahun: 2 gram garam atau sekitar 0,8 gram natrium
  • 4 - 6 tahun: 3 gram garam atau sekitar 1,2 gram natrium
  • 7 - 10 tahun: 5 gram garam atau sekitar 2 gram natrium
  • 11 tahun ke atas: 6 gram garam atau sekitar 2,4 gram natrium

Sebagai gambaran, 1 sdt garam setara dengan ±2.000 gram garam. Jadi, bisa dibayangkan jika <1 gram garam adalah jumlah yang sangat sedikit, sekitar sejumput jari. 

Manfaat dan Tujuan Garam pada MPASI

Meski dibatasi, baik IDAI maupun WHO tidak menyatakan larangan pemberian garam sebagai bahan penyedap tambahan.

Pemberian garam atau gula sebagai perasa diperbolehkan dengan tujuan untuk mengenalkan rasa dan meningkatkan nafsu makan si kecil. Namun kembali lagi, jumlahnya harus mengikuti takaran yang disarankan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan pada bayi.

Bahaya Terlalu Tinggi Garam untuk MPASI

Selain menambahkan garam secara moderat mengikuti tahapan usianya, Anda juga perlu teliti membaca dan memperhatikan takaran garam yang ada di makanan olahan kemasan (processed food) sebelum memberikannya pada si kecil. 

Pasalnya, mengonsumsi terlalu banyak garam melebihi takaran yang disarankan bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bayi seperti di bawah ini. 

BACA JUGA: PENTING KAH MEMBACA FOOD LABEL PADA PRODUK? CARA MEMBACA LABEL NUTRISI YANG BENAR UNTUK DIET TEPAT DAN SEIMBANG

1. Bayi Tidak Menyukai Rasa Makanan Alami

Makanan olahan, yang cenderung asin tapi biasanya tidak kaya nutrisi, seringkali lebih disukai daripada makanan utuh dengan garam alami yang lebih rendah. Kebiasaan ini pada akhirnya akan membentuk dan memengaruhi preferensi rasa asin pada si kecil sehingga membuatnya lebih menyukai rasa makanan olahan ketimbang makanan alami, seperti sayur dan buah.

2. Memengaruhi Fungsi Ginjal

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ginjal bayi belum berkembang sempurna sehingga terlalu banyak atau sering mengonsumsi makanan asin bisa memengaruhi dan merusak fungsi ginjal bayi.

3. Menimbulkan Berbagai Masalah Kesehatan

Mengonsumsi terlalu banyak garam membuat si kecil berisiko mengalami masalah hipertensi selama masa kanak-kanak dan remaja yang akan meningkatkan risiko penyakit jantung di kemudian hari. Dalam kasus lainnya, konsumsi garam berlebih juga bisa membuat bayi mengalami dehidrasi sehingga memerlukan perawatan medis darurat.

Jadi sebelum menambahkan garam pada makanan bayi, pastikan Anda sudah mempertimbangkan anjuran dan risiko kesehatan di atas, ya.

Sebagai brand yang konsisten menghadirkan produk-produk alami tanpa tambahan bahan aditif,  Bunda bisa memilih PURA Sea Salt dan PURA Seasoning Powder untuk melengkapi kebutuhan MPASI si kecil. Semuanya diproses secara alami menggunakan 100% bahan asli sehingga lebih rendah natrium namun kaya mineral. Cocok banget kan buat si kecil dan keluarga?