Mitos atau Fakta? Mitos Garam yang Banyak Dipercaya

Masyarakat Indonesia memang terkenal percaya pada mitos. Entah dari mana mulanya, tapi kemungkinan besar mitos berasal dari kepercayaan maupun budaya masyarakat setempat. Menariknya, banyak di antaranya dipercayai begitu saja bahkan diwariskan secara turun-temurun. Tak terkecuali mitos tentang garam yang masih sering kita percaya sampai hari ini.

Nah, supaya tidak termakan informasi yang kebenarannya tidak bisa dibuktikan, cek dulu fakta di balik mitos tentang garam berikut ini, yuk!

Mengapa Banyak yang Percaya Mitos Ini?

Mitos sering kali dikaitkan dengan takhayul atau fenomena yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Asal-usulnya pun sering kali tidak jelas dan muncul begitu saja.

Karena sulitnya untuk dibuktikan, banyak yang kemudian memercayainya begitu saja dan menjadikannya sebagai bagian dari keseharian kita.

Begitu pula dengan garam. Bumbu dapur yang satu ini juga memiliki banyak mitos yang dipercaya sampai saat ini. Mulai yang berkaitan dengan isu kesehatan sampai yang berbau takhayul.

10 Mitos tentang Garam

Untuk mendapatkan informasi yang lebih valid, cek dulu mitos vs fakta garam berikut ini. 

#1 Garam Menyebabkan Darah Tinggi

Faktanya: garam memang sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, salah satunya darah tinggi. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, tapi itu jika Anda mengonsumsinya secara berlebihan. 

Saat jumlah konsumsinya masih dalam batas normal, justru garam memberikan banyak manfaat kesehatan karena mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Misalnya untuk mengurangi resiko darah rendah, menjaga keseimbangan cairan tubuh, memelihara saraf dan otot, hingga mengontrol produksi hormon tiroid.

#2 Garam Hanya Berfungsi Memberikan Rasa Asin

Faktanya: garam memang berfungsi sebagai penyedap yang memberikan rasa gurih saat ditambahkan dalam makanan. Namun fungsi garam tidak sekedar itu. 

Garam bisa menyamarkan rasa pahit, memperkuat rasa manis, meningkatkan aroma masakan, mempertahankan nutrisi, hingga memperbaiki tekstur makanan. 

#3 Orang Sehat Bebas Mengonsumsi Garam Sepuasnya

Faktanya: meski tekanan darah Anda normal dan tidak memiliki kondisi medis yang perlu diperhatikan, jumlah konsumsi garam tetap tidak boleh melebihi batas yang dianjurkan, yakni 5 gram (setara dengan setengah sendok teh) per hari.

Terlalu banyak mengonsumsi garam bisa memengaruhi fungsi tubuh. Salah satunya adalah jantung yang harus bekerja lebih keras karena mendorong lebih banyak cairan lewat pembuluh darah. Ini meningkatkan risiko hipertensi dan kerusakan pembuluh darah yang menyebabkan stroke dan serangan jantung.

#4 Garam Tidak Bisa Kedaluwarsa

Faktanya: secara teknis, garam memang tidak akan kedaluwarsa karena bersifat antibakteri. Bahkan garam merupakan bahan alami yang digunakan sebagai pengawet makanan.

Meski begitu, garam bisa terkontaminasi kalau tidak disimpan dengan benar. Garam bisa berubah lembap bahkan mencair. Kalau sudah begini, sebaiknya tidak digunakan lagi, ya!

BACA JUGA: CARA MENYIMPAN GARAM HIMALAYA AGAR TIDAK CEPAT BERAIR

#5 Garam Tanpa Yodium Buruk untuk Kesehatan

Faktanya: kandungan yodium memang dibutuhkan tubuh untuk memelihara fungsi kelenjar tiroid dan mencegah penyakit gondok. Zat ini memang bisa ditemukan pada garam pada umumnya. Namun, ada jenis garam yang hanya mengandung sedikit bahkan tidak mengandung yodium seperti garam himalaya.

Tapi Anda tidak perlu khawatir karena kandungan yodium sebenarnya masih bisa ditemukan dalam bahan pangan lain, seperti ikan, susu, dan telur.

#6 Garam adalah Sumber Natrium Terbesar

Faktanya: garam memang mengandung natrium tapi tidak selalu menjadi sumber terbesar. Anda bisa mengontrol jumlah garam yang dimasukkan ke dalam masakan tapi tidak dengan garam yang terkandung dalam makanan olahan, seperti saus tiram, kaldu bubuk, atau nugget.

Selain itu, kandungan natrium sebenarnya juga bisa ditemukan secara alami, meski dalam jumlah kecil, dalam beberapa bahan makanan seperti susu, ikan, bahkan sayuran.

#7 Anda Harus Mengonsumsi Garam Setelah Berolahraga

Faktanya: saat berolahraga tubuh memang mengeluarkan banyak keringat sehingga muncul dorongan yang menyarankan Anda untuk mengonsumsi minuman berenergi atau larutan elektrolit untuk mengganti garam yang hilang.

Padahal sebenarnya hanya sedikit garam yang hilang melalui keringat dan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, Anda cukup minum air putih agar tubuh kembali terhidrasi.

#8 Garam Membuat Air Cepat Mendidih

Faktanya: garam tidak akan mempercepat air mendidih. Sebaliknya, garam justru meningkatkan titik didih air sehingga butuh waktu lebih lama untuk mendidihkannya.

Untuk menaikkan titik didih air, butuhkan 1 ons garam per liter air. Jumlah ini tentu tidak realistis untuk memasak sehari-hari. Garam yang ditambahkan ke air panas memang menimbulkan gelembung tapi bukan tanda air mendidih.

#9 Garam Bisa Mengusir Ular

Faktanya: garam memang bisa mengusir hewan berlendir seperti siput atau lintah tapi tidak dengan bersisik seperti ular. Oleh karena itu, mitos ini tidak dapat dipertanggungjawabkan, ya!

#10 Menumpahkan Garam Bisa Membawa Nasib Buruk

Faktanya: saking mahalnya harga garam di zaman kuno dulu, menumpahkan garam dianggap bisa membawa nasib buruk. Rupanya takhayul ini masih beredar dan dipercaya sampai hari ini.

Nah, itulah fakta vs mitos tentang garam yang perlu Anda ketahui. Gimana, masih ada yang mau menambahkan garam juga bisa mengusir makhluk halus?

Sejak dulu memang kita banyak mendengar soal mitos. Meski begitu tidak semuanya harus dipercaya karena banyak di antaranya yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara saintifik.

Tapi daripada terjebak dalam mitos yang tak jelas asal-usulnya, Anda bisa pilih yang pasti-pasti aja seperti PURA Sea Salt yang pasti lebih sehat karena 100% diproses secara alami tanpa melalui proses rafinasi dan penambahan bahan kimia berbahaya.