Kaldu bubuk tidak menggantikan ayam asli sebagai sumber protein dalam MPASI. Ayam asli digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein dan zat gizi dari bahan pangan, sedangkan kaldu bubuk berfungsi sebagai bumbu untuk menambah rasa. Jika digunakan, perhatikan usia bayi, komposisi produk, takaran, serta total natrium dari makanan yang dikonsumsi sepanjang hari.
Nama atau rasa ayam, sapi, maupun salmon pada kaldu bubuk tidak berarti kandungan gizinya sama dengan bahan pangan tersebut. Karena itu, orang tua tetap perlu membedakan bahan yang berfungsi memenuhi kebutuhan gizi dengan bumbu yang digunakan untuk memperkaya rasa makanan.
Dengan memahami perbedaan fungsi tersebut, Ibu dapat menyusun MPASI dengan sumber gizi yang tetap menjadi prioritas sekaligus lebih cermat saat mempertimbangkan penggunaan bumbu kaldu.
Catatan: Artikel ini memberikan informasi umum mengenai penggunaan kaldu bubuk dalam MPASI dan tidak menggantikan saran dokter atau ahli gizi. WHO merekomendasikan MPASI sejak sekitar usia 6 bulan dan menyarankan agar garam serta gula tidak ditambahkan ke makanan pendamping. Jika bayi memiliki kondisi medis, alergi, atau kebutuhan diet khusus, konsultasikan pilihan bahan dan bumbu dengan tenaga kesehatan.
Ayam asli dan kaldu bubuk tidak dapat saling menggantikan karena perannya dalam MPASI berbeda. Ayam merupakan bahan pangan yang dapat menjadi sumber protein, sedangkan kaldu bubuk digunakan dalam jumlah kecil sebagai bumbu.
WHO dalam panduan complementary feeding untuk anak usia 6–23 bulan merekomendasikan pola makan yang beragam, termasuk konsumsi pangan hewani seperti daging, ikan, atau telur. Artinya, jika tujuan Ibu adalah memenuhi kebutuhan gizi anak, bahan pangan sumber protein tetap perlu menjadi bagian dari menu.
|
Aspek |
Ayam Asli |
Kaldu Bubuk |
|
Fungsi dalam MPASI |
Bahan pangan sumber protein dan zat gizi |
Bumbu untuk menambah rasa |
|
Kandungan yang diperhatikan |
Protein dan zat gizi dari bahan pangan |
Komposisi, natrium, dan bahan tambahan |
|
Jumlah penggunaan |
Menjadi bagian dari porsi makanan |
Digunakan sedikit sesuai kebutuhan dan label |
|
Peran dalam menu |
Bagian dari susunan makanan utama |
Pelengkap rasa |
|
Dapat saling menggantikan? |
Tidak. Kaldu bubuk tidak menggantikan porsi ayam atau sumber protein lainnya. |
Tidak. Ayam tidak digantikan oleh penggunaan kaldu bubuk. |
Jika tujuannya menambah asupan protein, masukkan sumber protein secara langsung ke dalam MPASI, misalnya ayam, ikan, telur, daging, atau sumber lain yang sesuai dengan usia dan kebutuhan bayi. Jangan menghitung kaldu rasa ayam, sapi, atau salmon sebagai pengganti porsi lauk.
Sesuai dengan arahan WHO bahwa MPASI perlu menyediakan energi, protein, dan mikronutrien yang memadai untuk mendukung kebutuhan bayi yang sedang tumbuh. Kaldu bubuk mengandung bahan yang berasal dari sumber protein, tetapi jumlah yang digunakan sebagai bumbu jauh berbeda dengan porsi bahan pangan utama.
Fungsi kaldu bubuk untuk MPASI lebih tepat ditempatkan sebagai bumbu untuk memperkaya cita rasa, bukan sebagai sumber gizi utama. Penggunaan bumbu dapat membuat profil rasa makanan berubah, tetapi penerimaan bayi terhadap makanan tidak hanya ditentukan oleh rasa.
Tekstur yang sesuai usia, variasi bahan, kondisi bayi, suasana makan, dan cara orang tua merespons tanda lapar serta kenyang juga berpengaruh terhadap proses makan. Karena itu, menambahkan kaldu bukan satu-satunya langkah ketika bayi menolak makanan.
Jika Ibu memilih menggunakan kaldu bubuk untuk MPASI, kandungan natriumnya perlu diperhitungkan bersama seluruh makanan yang dikonsumsi bayi. Natrium tidak hanya dapat berasal dari kaldu, tetapi juga terdapat secara alami dalam bahan pangan maupun berasal dari bahan tambahan lain.
Perlu diperhatikan pula bahwa WHO merekomendasikan agar garam dan gula tidak ditambahkan ke makanan pendamping bayi. Karena itu, penggunaan produk bumbu yang mengandung garam sebaiknya tidak dipandang sebagai kebutuhan wajib dalam MPASI.
Berdasarkan informasi nilai gizi Kaldu Ayam Pura yang menjadi acuan artikel ini, 1 gram atau sekitar ¼ sendok teh mengandung 140 mg natrium. Apabila yang digunakan hanya 0,5 gram, kontribusi natriumnya dapat diperkirakan sekitar 70 mg.
Natrium yang dikonsumsi = kandungan natrium per gram × jumlah kaldu yang digunakan
Takaran sendok dapat menghasilkan jumlah yang berbeda tergantung cara mengambil produk. Karena itu, ⅛ sendok teh sebaiknya dipahami sebagai perkiraan. Jika membutuhkan perhitungan lebih akurat, gunakan berat dalam gram dan selalu merujuk pada informasi nilai gizi pada kemasan produk yang sedang digunakan.
Jangan menilai penggunaan kaldu hanya dengan membandingkan kandungannya terhadap satu angka acuan. Natrium dari kaldu tetap menjadi bagian dari total natrium yang diperoleh bayi dari ASI atau susu, bahan pangan, serta makanan pendamping lainnya.
Sebagai referensi, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi mencantumkan angka kecukupan natrium sebesar 200 mg per hari untuk bayi usia 7–11 bulan. Angka tersebut merupakan acuan kecukupan natrium harian secara keseluruhan, bukan batas aman khusus penggunaan kaldu bubuk.

Cara memilih kaldu MPASI tidak cukup dengan melihat tulisan pada bagian depan kemasan. Periksa informasi produk secara menyeluruh agar Ibu mengetahui apa yang diberikan dan dapat menyesuaikan penggunaannya dengan menu bayi.
Hal yang perlu diperiksa meliputi:
Jumlah bumbu kaldu untuk MPASI perlu disesuaikan dengan keseluruhan komposisi menu. Jika makanan sudah menggunakan bahan lain yang turut menyumbang natrium, penambahan kaldu perlu dipertimbangkan kembali. Sebaliknya, jangan menjadikan takaran tertentu sebagai angka yang harus selalu digunakan pada setiap menu.
Ibu dapat mempelajari lebih lanjut cara memahami natrium dalam kaldu MPASI sebelum menentukan penggunaannya dalam menu si kecil.

Rasa yang lebih sedap tidak dapat menggantikan susunan MPASI yang bergizi. Jika menu belum memiliki sumber protein atau kurang bervariasi, solusinya bukan sekadar menambah kaldu bubuk, tetapi memperbaiki bahan utama yang digunakan.
WHO menekankan pentingnya makanan pendamping yang beragam dan padat gizi. Jadi, prioritaskan susunan makanan yang memenuhi kebutuhan bayi, kemudian tempatkan bumbu hanya sebagai pelengkap jika memang digunakan.
Sebelum menggunakan kaldu bubuk untuk MPASI, Ibu dapat mengikuti alur sederhana berikut agar fungsi bahan utama dan bumbu tidak tertukar:
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul saat orang tua mempertimbangkan penggunaan kaldu bubuk dalam menu MPASI.
Kandungannya tidak dapat langsung disamakan dengan ayam asli. Periksa informasi nilai gizi pada produk dan tetap berikan sumber protein secara langsung dalam menu MPASI.
Kaldu bubuk bukan bahan yang wajib diberikan setiap hari. Jika Ibu memilih menggunakannya, pertimbangkan komposisi, jumlah yang dipakai, sumber natrium lain dalam menu, serta rekomendasi tenaga kesehatan untuk kondisi bayi.
Kaldu dapat mengubah dan memperkaya rasa makanan, tetapi tidak menjamin bayi menjadi lebih lahap. Penerimaan makanan juga dipengaruhi tekstur, variasi menu, kondisi bayi, suasana makan, serta cara pemberian makan.
Tidak. Keterangan tanpa MSG tidak menunjukkan jumlah natrium dalam produk. Tetap periksa informasi nilai gizi dan ukuran takaran saji untuk mengetahui kandungan natriumnya.
Tidak. Kaldu digunakan sebagai bumbu, sedangkan ayam merupakan bahan pangan yang dapat menjadi sumber protein. Jika bayi membutuhkan protein, berikan sumber protein yang sesuai secara langsung dalam menu.
Kaldu bubuk dan ayam asli memiliki fungsi berbeda dalam MPASI. Protein dan zat gizi tetap perlu diperoleh dari bahan pangan yang sesuai, sedangkan kaldu bubuk, jika dipilih untuk digunakan, ditempatkan sebagai bumbu dan bukan pengganti lauk.
Sebelum menggunakannya, periksa komposisi serta informasi nilai gizi, hitung natrium berdasarkan jumlah yang benar-benar digunakan, dan pertimbangkan keseluruhan makanan bayi dalam sehari.
PURA menghadirkan berbagai pilihan kaldu masakan berbahan alami dan berkualitas untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Untuk melengkapi MPASI, PURA Kaldu dapat digunakan sebagai bumbu penambah rasa dengan tetap menempatkan ayam, ikan, telur, daging, atau sumber protein lainnya sebagai bahan utama. Pilih varian PURA Kaldu sesuai kebutuhan dan gunakan berdasarkan takaran serta informasi nilai gizi pada kemasan.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. https://jdih.kemkes.go.id/documents/peraturan-menteri-kesehatan-nomor-28-tahun-2019
World Health Organization. (2023). WHO guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240081864
World Health Organization. (2026). Healthy diet. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet