Tenggorokan terasa kering, tidak nyaman, atau seperti “seret” setelah berbuka puasa sering kali bukan karena minum kurang, melainkan karena konsumsi makanan ber-MSG dan bumbu berlapis saat perut kosong. Setelah seharian berpuasa, tubuh, termasuk tenggorokan cenderung lebih sensitif terhadap rasa gurih yang terlalu tajam. Di sinilah perbedaan antara rasa umami alami tanpa MSG dan gurih instan mulai terasa.
Bagi banyak orang, menu berbuka identik dengan makanan praktis, berbumbu kuat, dan serba cepat. Tanpa disadari, pilihan ini bisa mempengaruhi kenyamanan tubuh setelah berbuka, terutama di area tenggorokan. Artikel ini akan membahas mengapa hal tersebut bisa terjadi, serta bagaimana umami alami untuk menu buka puasa bisa menjadi alternatif yang lebih bersahabat.
Saat waktu berbuka tiba, banyak orang cenderung memilih makanan yang praktis, cepat disajikan, dan langsung terasa gurih. Gorengan dengan bumbu tabur, mi instan, lauk siap masak berbumbu sachet, hingga kuah instan sering menjadi pilihan karena dianggap paling mudah dan memuaskan setelah seharian menahan lapar. Tanpa disadari, jenis makanan ini umumnya mengandalkan MSG dan penguat rasa buatan untuk menciptakan sensasi gurih yang kuat dalam waktu singkat. Kondisi inilah yang membuat efek MSG saat berbuka puasa kerap terjadi, terutama ketika tubuh dan tenggorokan masih beradaptasi setelah puasa panjang.
Secara sensasi, makanan ber-MSG dapat membuat tenggorokan terasa kurang nyaman bagi sebagian orang, terutama setelah puasa panjang. Rasa gurih yang terlalu kuat masuk secara tiba-tiba bisa memicu tenggorokan terasa kering, muncul sensasi seret atau lengket, serta keinginan minum berlebihan setelah makan. Hal ini wajar terjadi karena setelah seharian kosong, tenggorokan dan tubuh belum sepenuhnya siap menerima stimulasi rasa yang terlalu tajam.

|
Aspek |
Gurih Instan (MSG) |
Umami Alami |
|
Sumber rasa |
Penguat rasa buatan |
Bahan alami (daging, tulang, sayur) |
|
Sensasi rasa |
Tajam & langsung “nendang” |
Lembut & bertahap |
|
Respons tenggorokan |
Bisa terasa kering |
Lebih nyaman |
|
Cocok untuk berbuka |
Tidak |
Ya |
Umami alami dari kaldu memberikan rasa gurih yang lebih halus, sehingga lebih ramah dikonsumsi setelah perut kosong. Inilah alasan banyak orang mulai mencari alternatif MSG alami untuk masakan, khususnya saat Ramadan.
Setelah puasa:
Menu berbuka dengan rasa yang tidak terlalu tajam membantu tubuh beradaptasi secara bertahap. Itulah mengapa kaldu tanpa MSG untuk berbuka menjadi pilihan yang lebih nyaman, tanpa mengorbankan rasa.
Ramadan sering membentuk ulang pola makan. Jika selama berbuka kita terbiasa:
Maka kebiasaan ini berpotensi terbawa ke pola makan harian setelah Ramadan. Padahal, beralih ke rasa umami alami tanpa MSG bisa menjadi langkah kecil dengan dampak jangka panjang bagi kenyamanan dan kesehatan keluarga.
Di sinilah peran kaldu alami menjadi relevan. PURA Kaldu menghadirkan rasa umami dari bahan alami tanpa ketergantungan pada MSG, sehingga membantu menu berbuka puasa tetap gurih, hangat, dan nyaman dikonsumsi. Cocok untuk sup, tumisan, hingga menu keluarga tanpa perlu menambah bumbu berlapis.
Bukan soal menghilangkan rasa gurih, tapi memilih sumber gurih yang lebih lembut dan alami agar berbuka puasa bukan hanya lezat, tapi juga terasa lebih nyaman di tubuh.
WhatsApp: +62 817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia