Anak Susah BAB Saat Puasa, Wajar atau Tidak?

Anak Susah BAB Saat Puasa, Wajar atau Tidak?

Article Written by:
dr. Magdalena Rusady Goey, MRes, SpA
Medical Educator PURA

 

Puasa adalah momen yang penuh berkah, namun bagi orang tua, ada tantangan tersendiri, terutama ketika anak mengalami masalah susah buang air besar (BAB) selama berpuasa. Tentu saja, sebagai orang tua, pasti merasa khawatir jika anak tidak BAB dalam beberapa hari. Namun, apakah ini wajar atau perlu segera ditangani?

Kenapa Saat Puasa Jarang BAB? Ini Penyebabnya

Jarang BAB saat puasa adalah keluhan yang sangat umum terjadi, dan pada sebagian besar kasus bukan hal yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Penyebab utamanya adalah perubahan pola makan dan asupan cairan selama berpuasa, bukan gangguan pencernaan serius.

Sembelit atau susah BAB saat puasa merupakan salah satu keluhan yang cukup sering dialami saat sedang berpuasa. Salah satu penyebab utama anak mengalami sembelit saat puasa adalah dehidrasi. Puasa mengurangi asupan cairan sepanjang hari, yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan, termasuk saluran pencernaan. Kurangnya cairan ini menghambat proses pencernaan dan membuat tinja menjadi lebih keras, sehingga sulit dikeluarkan.

Selain itu, perubahan pola makan yang drastis selama puasa juga berperan. Makanan yang lebih padat dan kurang serat dapat membuat proses pencernaan menjadi lebih lambat. Jika anak tidak mengonsumsi cukup sayuran, buah, atau makanan berserat tinggi saat sahur dan buka, risiko sembelit akan semakin besar. Selain itu, banyak anak yang lebih memilih untuk istirahat setelah makan saat berpuasa, sehingga aktivitas fisik mereka berkurang. Aktivitas fisik yang minim dapat memengaruhi pergerakan usus, sehingga proses pencernaan menjadi lebih lambat dan mengurangi frekuensi BAB. Semakin jarang anak BAB, tinja yang tertimbun dalam usus akan semakin keras dan semakin sulit dikeluarkan.

Secara umum, jika anak tidak BAB dalam 1–2 hari saat puasa, itu bisa dianggap wajar. Namun, jika lebih dari itu, atau jika anak tampak kesakitan, cemas, atau mengalami gejala lain seperti perut keras, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Sembelit atau susah BAB pada anak saat puasa adalah masalah umum, tetapi tetap harus diwaspadai jika kondisinya berlanjut atau menyebabkan ketidaknyamanan pada anak. 

Cara Mengatasi Sembelit Pada Anak Saat Puasa

  1. Peningkatan Konsumsi Serat

Salah satu cara untuk mengatasi sembelit adalah dengan memastikan anak mengonsumsi makanan kaya serat pada waktu sahur dan buka puasa. Makanan kaya serat yang sering diminati anak antara lain pepaya, apel, pir, brokoli, wortel, bayam, dan yogurt yang dipadukan dengan buah-buahan tinggi serat. Asupan serat yang cukup membantu melancarkan pencernaan, serta dapat membuat perut anak terasa kenyang lebih lama, yang membantu menghalau rasa lapar saat puasa.

  1. Hidrasi yang Cukup

Menjaga agar anak tetap terhidrasi sesuai dengan kebutuhan cairan hariannya, sangat penting untuk mencegah sembelit. Kebutuhan cairan anak dapat bervariasi berdasarkan usia dan aktivitas. Berikut adalah rekomendasi kebutuhan cairan minimal anak menurut usia:

  • Usia 1-3 tahun: 4-6 gelas (800-1.000 ml) per hari
  • Usia 4-8 tahun: 5-7 gelas (1.000-1.400 ml) per hari
  • Usia 9-13 tahun: 7-8 gelas (1.600-1.900 ml) per hari
  • Usia 14-18 tahun: 8-11 gelas (2.000-2.500 ml) per hari

Selain air putih, air elektrolit juga bisa diberikan untuk menggantikan elektrolit yang hilang saat berpuasa. Cobalah racikan electrolyte water, yang sangat mudah dibuat dengan bahan-bahan seperti:

  • 250 ml air putih
  • Perasan 1/2 lemon
  • 1/4 sendok teh garam laut
  • 1 sendok teh madu (optional, untuk rasa manis alami)

Minuman ini membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan hidrasi tubuh selama berpuasa. 

  1. Perhatikan Aktivitas Fisik Anak

Meskipun puasa, pastikan anak tetap melakukan aktivitas fisik yang ringan, seperti jalan kaki setelah buka puasa atau sedikit bermain di luar. Aktivitas fisik dapat membantu merangsang usus untuk bergerak lebih aktif sehingga memperlancar proses BAB. Hindari olahraga berat yang menguras tenaga saat berpuasa, karena itu justru bisa mengurangi energi tubuh.

 

Kapan Sembelit Anak Saat Puasa Harus ke Dokter?

Jika anak tidak BAB selama lebih dari 3 hari, atau jika anak tampak sangat kesakitan, muntah, atau perutnya terasa keras, segera hubungi dokter. Dokter akan membantu menentukan apakah sembelit tersebut disebabkan oleh faktor lain yang lebih serius dan memberikan penanganan yang tepat. Jika diperlukan, obat pencahar juga dapat digunakan untuk mengatasi sembelit, tentunya sesuai dengan anjuran dokter.

FAQ - Pertanyaan Seputar Anak Susah BAB Saat Puasa

1. Kenapa saat puasa jarang BAB?

Frekuensi BAB menurun saat puasa karena tiga faktor utama: asupan cairan yang berkurang sehingga tinja menjadi lebih keras, pola makan yang berubah drastis dengan asupan serat yang lebih sedikit, dan aktivitas fisik yang menurun karena tubuh cenderung beristirahat setelah makan.

2. Apakah susah BAB saat puasa berbahaya?

Tidak selalu. Jika anak tidak BAB dalam 1–2 hari, kondisi ini masih tergolong wajar. Namun jika berlangsung lebih dari 3 hari atau disertai nyeri, muntah, atau perut keras, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

3. Bagaimana cara mengatasi jarang BAB saat puasa pada anak?

Tiga langkah utama yang bisa dilakukan orang tua: perbanyak makanan berserat saat sahur dan buka, pastikan kebutuhan cairan harian anak terpenuhi, dan ajak anak tetap beraktivitas ringan setelah berbuka.

Kesimpulan

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, orang tua dapat membantu anak mengatasi masalah sembelit saat puasa dan memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Sembelit pada anak saat puasa memang bisa menjadi masalah umum, namun dapat diatasi dengan hidrasi yang cukup, makanan berserat tinggi, dan aktivitas fisik ringan. 

Pada akhirnya, kunci menjaga pencernaan anak tetap lancar selama puasa ada pada kombinasi hidrasi yang cukup, asupan serat seimbang, serta pilihan makanan yang lebih bijak untuk keluarga.

Lengkapi Menu Sahur dan Buka Keluarga dengan PURA

Orang tua bisa mulai dari hal sederhana dengan menghadirkan menu sahur dan buka yang hangat dan ramah untuk pencernaan si kecil. Lengkapi dengan Kaldu Asli PURA yang dibuat dari 100% bahan natural tanpa tambahan gula, MSG, dan zat aditif, sehingga anak lebih lahap makan sayur dan makanan berserat selama puasa. Anda juga bisa menambahkan Garam Natural PURA untuk menjaga keseimbangan elektrolit harian, atau Kecap Manis PURA sebagai pelengkap masakan tanpa bahan tambahan berlebih. Jelajahi pilihan produk PURA lainnya untuk melengkapi menu sahur dan buka keluarga.

WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia