Article Written by
dr. Shane Tuty Cornish, CBS, IBCLC
PURA Medical Educator, Konselor Laktasi & MPASI
Anak kecanduan makanan kemasan biasanya menolak nasi dan sayur, lalu tantrum kalau tidak dikasih snack. Ini terjadi karena lidahnya sudah terbiasa rasa ekstrem dari hyper-palatable food dan makanan ultra proses (UPF).
Drama MPASI itu sering dimulai dari konsep yang sangat ideal: ibu masak sendiri, real food, belanja ke pasar, Googling resep jam 2 pagi. Targetnya satu: “Anakku harus sehat.”
Lalu hidup berkata lain. GTM datang tanpa undangan, disuruh pulang tidak mau. Anak tutup mulut, lempar sendok. Ibu mulai panik. Dan keluarlah kalimat legendaris lintas generasi:
“Yang penting anak mau makan dulu.”
Masuklah solusi cepat: biskuit, snack, nugget, makanan kemasan. Ajaib—anak mau makan. Rumah kembali damai. Ibu lega… tanpa sadar pola makan mulai bergeser. Bukan lagi soal apa gizinya, tapi apa rasanya.

Pelan-pelan anak jadi makin pilih-pilih. Nasi ditolak, sayur di-skip, mintanya itu lagi… itu lagi.
Kalau nggak dikasih? Tantrum sampai bikin tetangga mampir. Ibu bengong: “Loh, kok jadi begini?”
Banyak orang tua mengira ini sekadar fase atau “anak manja”. Padahal, salah satu pemicunya bisa datang dari snack anak dan makanan yang rasanya terlalu kuat.

Di sinilah kita kenalan dengan hyper-palatable food—bukan makanan “jahat”, tapi makanan yang memang dirancang supaya otak gampang nagih. Ciri utamanya: kombinasi gula, garam, dan lemak yang tinggi, sehingga rasanya “nendang” dan bikin susah berhenti.
Contoh yang paling sering ditemui:
Banyak orang tua bertanya, snack UPF adalah apa sebenarnya? Sederhananya, snack UPF adalah camilan anak yang masuk kategori makanan ultra proses (Ultra-Processed Food/UPF). Ini adalah makanan yang sudah melalui pengolahan tinggi. Biasanya mengandung berbagai tambahan, misalnya perisa, pengawet, pewarna, atau penguat rasa
Masalahnya, saat anak terlalu sering makan makanan ultra proses, lidahnya terbiasa dengan rasa ekstrem. Akibatnya:
Contoh yang sering ditemui di rumah termasuk biskuit UPF kemasan dengan rasa manis mencolok, keripik gurih, dan minuman manis siap saji. Semuanya punya kesamaan: rasa yang sengaja dibuat kuat supaya anak terus minta lagi.
Jadi bukan karena masakan ibu nggak enak. Tapi karena standar rasa anak sudah “naik kelas”… ke kelas MSG & friends.
.jpg)
Berbagai penelitian mengaitkan konsumsi makanan ultra proses pada anak dengan risiko overweight dan obesitas. Logikanya sederhana: kalorinya tinggi, tapi mikronutriennya minim.
Hasil yang sering membuat orang tua bingung:
Anak tampak gemuk—pipi tembem, BB naik cepat—tapi gizinya tetap kurang.
Ini yang sering muncul sebagai pertanyaan:
“Kok bisa gemuk, padahal makannya dikit?”
Jawabannya: kalori tinggi + kualitas gizi rendah.
Snack anak yang manis/gurih bisa tinggi kalori, tapi tidak memberi cukup protein, serat, vitamin, dan mineral untuk kebutuhan tumbuh kembang.
Hyper-palatable food “melatih” otak anak untuk selalu mencari rasa yang kuat. Anak jadi:
Ini bukan sekadar soal kemauan anak, tapi soal preferensi rasa yang terbentuk dari paparan berulang.
Kabar baiknya: anak tidak butuh rasa ekstrem. Yang dibutuhkan justru rasa alami—konsisten dan bertahap. Solusinya bukan nol rasa, tapi menormalkan ulang rasa.
Langkah praktis yang lebih realistis:
Kalau ingin langkah lebih konkret, makanan tanpa UPF untuk anak sebenarnya sederhana. Masak sendiri dari bahan segar. Batasi produk kemasan siap saji. Gunakan juga bumbu dapur alami, bukan penyedap sintetis, supaya rasa tetap gurih tanpa harus 'hyper-palatable'

Yes, kaldu bukan musuh MPASI. Kaldu justru bisa membantu transisi anak dari rasa ekstrem ke rasa natural—asal:
Kaldu bubuk non-MSG dan berbahan alami boleh dipakai untuk MPASI. Syaratnya, gunakan secukupnya saja dan jangan jadikan andalan utama rasa. Tujuannya adalah membiasakan lidah anak pada rasa alami, bukan rasa yang 'menenggelamkan' gizi aslinya.

Snack UPF adalah camilan anak yang termasuk kategori makanan ultra proses (Ultra-Processed Food)—melalui pengolahan tinggi dan biasanya mengandung tambahan perisa, pengawet, pewarna, atau penguat rasa buatan. Contohnya biskuit manis, keripik kemasan, wafer, dan minuman manis siap saji.
Secara umum, snack UPF adalah camilan kemasan dengan rasa yang sengaja dibuat kuat (kombinasi gula, garam, dan lemak tinggi) agar anak mudah "ketagihan". Bentuknya bisa biskuit, keripik, nugget olahan, sosis kemasan, hingga minuman manis.
Biskuit UPF boleh sesekali, tapi bukan untuk konsumsi harian. Konsumsi biskuit UPF yang terlalu sering berisiko membuat lidah anak terbiasa rasa ekstrem, memicu picky eater, dan menyumbang kalori tinggi tanpa gizi seimbang.
Makanan tanpa UPF bisa dimulai dengan memasak dari bahan segar. Kurangi juga produk kemasan siap saji secara bertahap. Perkuat rasa masakan rumah dengan bumbu alami atau kaldu non-MSG secukupnya. Tujuannya bukan menghilangkan rasa sama sekali, tapi mengembalikan rasa ke yang lebih alami.
Karena MPASI bukan lomba siapa paling anti ini-itu. Tapi soal kebiasaan makan jangka panjang. Saat rasa tidak lagi mendominasi, anak belajar makan, ibu lebih tenang, dan kesehatan masa depan lebih terjaga.
Anak susah makan setelah kenal snack kemasan bukan akhir dari segalanya. Dengan mengurangi UPF secara bertahap, memperkuat rasa masakan rumah dengan bumbu alami, dan konsisten menormalkan ulang rasa, anak bisa kembali terbuka pada makanan sehat—tanpa drama, tanpa paksaan, dan tanpa harus jadi lomba siapa paling ideal.
Membangun kembali selera anak terhadap rasa alami memang butuh proses, tapi Pura Indonesia bisa jadi teman dapur yang membantu—mulai dari kaldu asli non-MSG, garam natural, hingga kecap manis yang tetap mendukung rasa gurih tanpa menjadikan makanan anak hyper-palatable. Lihat juga koleksi lengkapnya di halaman shop Pura Indonesia.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia