Anak - Anak Boleh Konsumsi Garam? Ini Penjelasan Dan Rekomendasi Takarannya

Anak - Anak Boleh Konsumsi Garam? Ini Penjelasan Dan Rekomendasi Takarannya

Article Written by 
dr. Shane Tuty Cornish, CBS, IBCLC
PURA Medical Educator, Konselor Laktasi & MPASI

 

“Dok, MPASI boleh pakai garam nggak sih? Takut ginjal bayi rusak…”

Nah, ini adalah salah satu pertanyaan paling sering diajukan para ibu saat mulai memberikan MPASI. Ada yang langsung panik, ada yang memilih benar-benar tanpa garam sampai anak usia 2 tahun, ada juga yang santai memberikan bayi menu keluarga. Jadi, sebenarnya apakah anak boleh konsumsi garam?

Jawabannya: anak boleh mengkonsumsi garam, tetapi dalam jumlah yang wajar. Garam mengandung natrium, dan natrium bukanlah zat yang harus dihindari sepenuhnya. Justru, natrium dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, mendukung fungsi otot, dan membantu kerja saraf serta otak. Sejak lahir, bayi juga sudah mendapatkan natrium dari ASI atau susu formula. Saat memasuki usia MPASI, sekitar 6 bulan, ginjal bayi umumnya sudah cukup matang untuk memproses natrium dari makanan dalam jumlah kecil.

 

 

Lalu, kenapa banyak yang mengatakan bayi tidak boleh makan garam? Yang sebenarnya perlu dibatasi adalah konsumsi natrium berlebihan, bukan garam dalam jumlah kecil itu sendiri. Sayangnya, pesan ini sering dipahami secara terlalu ekstrem, seolah-olah sedikit garam saja langsung berbahaya. Padahal, risiko biasanya muncul jika anak terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi natrium, terutama dari makanan ultra-proses atau UPF seperti sosis, nugget, mi instan, camilan kemasan, dan saos botolan.

Dalam praktiknya, banyak orang tua bertanya, bolehkah MPASI pakai garam? Jawabannya boleh, asalkan sedikit dan tidak berlebihan. Kebutuhan natrium bayi usia 7–12 bulan sekitar 370 mg per hari. Namun, angka ini tidak perlu dihitung terlalu kaku. Sebagai gambaran praktis, penggunaan sejumput atau sekitar 1/8 sendok teh garam untuk 1–2 porsi MPASI umumnya sudah cukup. Apalagi, pada fase awal MPASI, bayi biasanya masih makan dalam jumlah sedikit sehingga asupan natriumnya juga cenderung rendah secara alami.

 

Jadi, garam untuk MPASI sebenarnya boleh digunakan dalam jumlah kecil dan seimbang. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, membiarkan bayi ikut makan menu keluarga dengan rasa ringan justru bisa lebih praktis dan membantu anak beradaptasi dengan cita rasa makanan rumahan. Ini juga dapat mengurangi beban ibu yang harus memasak dua menu berbeda setiap hari.

Kuncinya ada pada pola makan yang seimbang dan mindful. Jika hari ini anak makan makanan yang sedikit lebih asin, menu berikutnya bisa dibuat lebih ringan. Fokus utama sebaiknya tetap pada variasi bahan makanan, penggunaan bahan segar, dan membatasi makanan tinggi natrium secara rutin. Pendekatan ini jauh lebih penting dibanding menghindari garam total tanpa melihat pola makan anak secara keseluruhan.

Selain itu, orang tua juga perlu memahami bahwa takaran garam untuk bayi tidak harus besar. Yang penting adalah secukupnya dan tidak menjadikan rasa asin sebagai rasa dominan dalam makanan anak. Penggunaan kaldu bubuk yang mengandung garam juga masih dapat dipertimbangkan selama dipakai secara bijak dan tidak terlalu sering.

 

Intinya, anak boleh konsumsi garam karena natrium tetap dibutuhkan tubuh. Yang paling penting adalah jumlahnya tetap terkontrol, tidak berlebihan, dan tidak berasal dari makanan olahan tinggi garam setiap hari. Jadi, orang tua tidak perlu terlalu takut. Dalam MPASI, yang dikejar bukan kesempurnaan, melainkan pola makan sehat yang realistis, seimbang, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar ada atau tidaknya garam dalam makanan anak, melainkan bagaimana orang tua mengatur jumlah dan memilih sumbernya dengan lebih bijak. Karena itu, selain memperhatikan takaran, pemilihan jenis garam yang digunakan di rumah juga patut dipertimbangkan. Garam laut sering dinilai lebih baik dibanding garam meja biasa karena cenderung minim proses dan tetap mempertahankan kandungan alaminya. Salah satu opsi yang bisa dipilih adalah PURA Sea Salt, yaitu 100% garam laut tanpa proses rafinasi, kaya mineral, lebih rendah natrium, serta telah mengandung yodium sesuai standar pemerintah. Dengan memilih garam yang kualitasnya lebih baik untuk masakan harian, orang tua bisa menerapkan pola makan keluarga yang lebih mindful tanpa perlu merasa terbebani. Jadi, kalau kamu cari pilihan garam yang lebih alami untuk digunakan sehari-hari, PURA Sea Salt dapat menjadi rekomendasinya.