Article Written by
dr. Shane Tuty Cornish, CBS, IBCLC
PURA Medical Educator, Konselor Laktasi & MPASI
“Dok, kok ASI aku terasa makin sedikit, ya? Padahal sebelumnya aman-aman saja…”
Keluhan seperti ini cukup sering dialami ibu menyusui. ASI menurun bisa terjadi saat tubuh sedang lelah, kurang tidur, kurang minum, atau ketika rutinitas menyusui berubah. Karena itu, kalau produksi ASI terasa berkurang, ibu tidak perlu langsung panik. Sering kali, ada penyebab yang bisa dikenali dan diperbaiki.

Salah satu penyebab ASI menurun yang paling umum adalah kelelahan fisik. Saat tubuh terlalu capek, stres meningkat, kualitas istirahat menurun, dan hormon yang membantu produksi serta pengeluaran ASI pun bisa ikut terpengaruh. Hormon oksitosin, misalnya, bekerja lebih optimal ketika ibu merasa tenang, nyaman, dan cukup istirahat. Karena itu, saat tubuh terlalu lelah, aliran ASI bisa terasa tidak selancar biasanya.
Selain itu, kurang cairan juga sering menjadi faktor yang tidak disadari. Saat aktivitas padat, ibu kerap lupa minum cukup atau merasa sudah banyak minum, padahal belum memenuhi kebutuhan harian. Kondisi ini bisa membuat tubuh lebih lemas dan ikut memengaruhi produksi ASI, apalagi jika pola makan juga tidak teratur.
Faktor lain yang sering memengaruhi adalah jadwal menyusui atau pumping yang berubah. Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering ASI dikeluarkan, semakin besar sinyal yang diterima tubuh untuk memproduksinya kembali. Sebaliknya, jika sesi menyusui atau pumping menjadi lebih jarang dan tidak konsisten, tubuh bisa menganggap kebutuhan ASI sedang menurun.

Sebelum buru-buru menyimpulkan ASI benar-benar kurang, ibu perlu melihat kondisi bayi secara keseluruhan. Beberapa tanda bayi masih mendapatkan cukup ASI antara lain frekuensi BAK yang baik, BAB normal, bayi tampak aktif, dan berat badan tetap naik sesuai grafik pertumbuhan. Kalau tanda-tanda ini masih baik, sering kali produksi ASI sebenarnya masih cukup.
Lalu, cara mengatasi ASI menurun bagaimana? Mulailah dengan merapikan kembali ritme menyusui, baik melalui direct breastfeeding maupun pumping yang lebih rutin. Usahakan payudara dikosongkan dengan optimal, lakukan skin-to-skin dengan bayi, penuhi kebutuhan cairan, dan berikan tubuh waktu untuk beristirahat. Dalam banyak kasus, saat tubuh lebih tenang dan pola menyusui kembali teratur, produksi ASI biasanya ikut membaik secara bertahap.
Selain ritme menyusui, nutrisi ibu menyusui juga penting untuk menjaga produksi ASI. Tubuh membutuhkan energi dan bahan baku yang cukup, sehingga ibu perlu tetap makan teratur dengan asupan bergizi seimbang. Agar lebih praktis, ibu bisa mengusahakan masakan rumah yang bernutrisi dan mudah disiapkan. Untuk urusan rasa, memilih bumbu dengan komposisi yang lebih sederhana juga bisa membantu. PURA Kaldu, misalnya, dibuat dari 100% kaldu asli, tanpa tambahan gula, tanpa MSG, dan tanpa zat aditif seperti perisa, pengawet, maupun pewarna sintetis. Pilihan seperti ini bisa menjadi pendamping yang lebih nyaman untuk masakan sehari-hari, terutama saat ibu ingin tetap menyajikan makanan rumahan yang enak tanpa tambahan yang tidak diperlukan.
.png)