Makan terlalu banyak garam saat sahur bisa membuat Anda lebih cepat haus ketika berpuasa. Ini terjadi karena natrium dalam garam memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan memicu keinginan untuk minum. Saat berpuasa, rasa haus tersebut bisa terasa lebih mengganggu karena kita harus menunggu sampai waktu berbuka untuk kembali minum.
Pernah merasa tenggorokan cepat kering setelah sahur dengan ikan asin, mi instan, atau lauk yang terlalu gurih? Kondisi ini cukup sering terjadi. Meski begitu, garam bukan satu-satunya penyebab. Jumlah air yang diminum, cuaca panas, dan aktivitas sehari-hari juga ikut memengaruhi rasa haus.
Garam mengandung natrium, mineral yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, membantu kerja saraf, dan mendukung fungsi otot.
Ketika kita mengonsumsi terlalu banyak garam, konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuh dapat meningkat. Otak mendeteksi perubahan ini dan memberikan sinyal haus agar kita minum untuk membantu menjaga keseimbangan cairan.
Itulah sebabnya setelah makan makanan asin, kita biasanya ingin segera minum air putih.
Dalam kondisi biasa, rasa haus bisa langsung diatasi dengan minum. Namun, saat berpuasa, tubuh harus menunggu sampai waktu berbuka untuk mendapatkan cairan kembali.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan minuman selama beberapa jam. Jika makanan sahur mengandung terlalu banyak natrium, dorongan untuk minum bisa muncul ketika kita masih harus menjalani aktivitas sepanjang hari.
Apalagi jika cuaca sedang panas atau pekerjaan membuat tubuh banyak berkeringat. Kehilangan cairan melalui keringat dapat menambah rasa haus yang sudah muncul akibat makanan asin.
Namun, bukan berarti semua orang akan mengalami rasa haus yang sama. Respons tubuh dipengaruhi oleh jumlah natrium yang dikonsumsi, kondisi hidrasi, dan aktivitas masing-masing.

Makanan tinggi natrium tidak selalu terasa sangat asin. Beberapa bumbu dan makanan olahan juga mengandung natrium yang cukup tinggi meskipun rasanya lebih dominan gurih atau manis.
Beberapa contoh makanan yang perlu diperhatikan porsinya saat sahur antara lain:
Bukan berarti makanan tersebut sama sekali tidak boleh dikonsumsi. Yang penting adalah memperhatikan porsi dan tidak menambahkan terlalu banyak garam atau bumbu tinggi natrium dalam satu hidangan.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 5 gram garam per hari, setara dengan kurang dari 2.000 mg natrium.
Jumlah tersebut kira-kira setara dengan satu sendok teh garam untuk seluruh makanan yang dikonsumsi dalam sehari, termasuk natrium dari bahan makanan dan bumbu kemasan.
Rekomendasi ini tetap berlaku selama Ramadan. Jadi, penggunaan garam saat sahur maupun berbuka sebaiknya tetap diperhatikan agar total konsumsi hariannya tidak berlebihan.
Sumber: WHO - Sodium Reduction.
Mengurangi garam tidak harus membuat menu sahur kehilangan rasa. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba saat menyiapkan makanan.
Tambahkan garam sedikit demi sedikit sambil mencicipi masakan. Jika sudah menggunakan kecap, saus, atau kaldu, perhatikan kembali apakah makanan masih membutuhkan tambahan garam.
Bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, lada, dan jeruk nipis dapat memperkaya rasa makanan. Dengan perpaduan bumbu yang tepat, masakan tetap terasa nikmat meskipun penggunaan garam dikurangi.
Padukan nasi atau sumber karbohidrat lainnya dengan protein, sayuran, dan buah. Sebisa mungkin, jangan menjadikan makanan yang terlalu asin sebagai menu utama setiap sahur.
Minum air putih secara bertahap selama waktu berbuka hingga sahur. Tidak perlu memaksakan minum terlalu banyak sekaligus menjelang imsak.
Kebutuhan cairan setiap orang bisa berbeda, terutama jika banyak berkeringat, sedang sakit, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Garam alami bisa menjadi pilihan untuk memasak sehari-hari, terutama bagi Anda yang memperhatikan bahan dan proses pengolahan makanan. Namun, penting untuk memahami bahwa garam alami tetap mengandung natrium.
Artinya, menggunakan garam alami bukan jaminan seseorang tidak akan cepat haus saat puasa. Jumlah yang digunakan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.
Salah satu pilihan untuk kebutuhan dapur adalah PURA Sea Salt Fine (Halus) 60 GR. Produk ini merupakan garam laut alami yang tidak melalui proses rafinasi dan dapat digunakan untuk berbagai masakan sehari-hari.
Anda juga bisa melihat pilihan produk PURA Indonesia lainnya untuk melengkapi kebutuhan memasak di rumah.
Apa pun jenis garam yang dipilih, gunakan secukupnya dan tetap perhatikan total asupan natrium dari seluruh makanan.
Konsumsi garam berlebihan saat sahur bisa membuat kita lebih cepat haus karena natrium memengaruhi keseimbangan cairan dan mekanisme rasa haus dalam tubuh. Kondisi ini dapat terasa lebih mengganggu saat puasa karena kita tidak bisa langsung minum.
Untuk membantu mengurangi rasa haus, batasi makanan yang terlalu asin, gunakan bumbu dapur untuk memperkaya rasa, dan cukupi kebutuhan cairan selama waktu berbuka hingga sahur.
Tidak perlu menghindari garam sepenuhnya. Yang terpenting adalah menggunakannya dalam jumlah wajar agar makanan tetap nikmat dan kebutuhan tubuh tetap terpenuhi.
.png)
WhatsApp: +62 817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia