
Article Written by:
dr. Magdalena Rusady Goey, MRes, SpA
Medical Educator PURA
Sebagai orang tua, kita sering bertanya-tanya, “kenapa anak saya gampang sakit, padahal makannya kelihatan cukup?” Salah satu jawabannya bisa jadi ada pada kesehatan saluran cerna atau gut health anak. Dalam beberapa tahun terakhir, gut health menjadi topik penting dalam dunia kesehatan anak karena perannya yang sangat besar terhadap daya tahan tubuh. Faktanya, sekitar 70–80% sistem imun anak berada di saluran pencernaan. Ini berarti usus bukan hanya tempat mencerna makanan, tetapi juga pusat pertahanan tubuh anak terhadap berbagai kuman dan penyakit.
Gut health atau kesehatan usus adalah kondisi di mana saluran pencernaan anak bekerja secara optimal. Kondisi ini ditandai oleh proses cerna dan serap nutrisi yang baik, keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat di usus, serta lapisan usus yang sehat dan tidak mudah meradang. Di dalam usus terdapat mikrobioma usus, yaitu kumpulan triliunan mikroorganisme—terutama bakteri baik—yang hidup secara alami. Mikrobioma ini berperan penting dalam melindungi tubuh dari infeksi, mengatur respons imun, membantu pembentukan antibodi, serta mengurangi risiko alergi dan peradangan. Jika keseimbangan mikrobioma terganggu, anak dapat menjadi lebih mudah sakit, sering mengalami diare, batuk-pilek berulang, atau gangguan pencernaan lainnya.

Hubungan antara pencernaan dan imunitas sangat erat. Usus memiliki jaringan imun khusus yang disebut Gut-Associated Lymphoid Tissue (GALT), yang bertugas mengenali mana zat yang aman dan mana yang berbahaya bagi tubuh. Saat gut health anak terjaga dengan baik, tubuh akan lebih cepat melawan virus dan bakteri, peradangan lebih terkontrol, dan risiko infeksi berulang menurun. Sebaliknya, ketika gut health terganggu, sistem imun dapat menjadi terlalu reaktif atau justru melemah, sehingga anak lebih sering sakit dan risiko alergi maupun intoleransi meningkat. Inilah sebabnya menjaga kesehatan pencernaan anak sejak dini menjadi sangat penting untuk imunitas jangka panjang.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan keseimbangan mikrobioma usus atau disbiosis telah dikaitkan dengan beragam kondisi kesehatan pada anak. Beberapa di antaranya adalah gangguan pencernaan seperti diare dan konstipasi berulang, serta peningkatan kejadian infeksi saluran napas berulang melalui mekanisme yang dikenal sebagai gut–lung axis. Ketidakseimbangan mikrobioma usus juga berhubungan dengan meningkatnya risiko alergi makanan, eksim (dermatitis atopic), dan asma akibat respons imun yang menjadi lebih sensitif. Pada kondisi tertentu, perubahan komposisi mikrobioma usus ditemukan pada anak dengan penyakit inflamasi usus dan dikaitkan dengan gangguan metabolik seperti obesitas anak.

Salah satu faktor yang kini mendapat banyak perhatian dalam kaitannya dengan gangguan gut health adalah konsumsi ultra-processed food (UPF). UPF adalah makanan yang melalui proses industri kompleks dan umumnya mengandung berbagai zat tambahan seperti pemanis buatan, perisa, pewarna, pengemulsi, dan pengawet. Konsumsi UPF yang tinggi telah dikaitkan dengan perubahan komposisi mikrobioma usus, peningkatan peradangan ringan kronik, serta penurunan keberagaman bakteri baik. Pada anak, paparan UPF secara berlebihan dapat berdampak pada kesehatan pencernaan, imunitas, dan pola makan jangka panjang. Oleh karena itu, membatasi konsumsi UPF menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga healthy gut anak.

Selain UPF, terdapat beberapa faktor lain yang dapat mengganggu gut health anak, seperti pola makan yang tidak seimbang dan rendah serat serta protein berkualitas, penggunaan antibiotik berulang tanpa indikasi yang jelas, kurangnya paparan makanan alami sejak masa MPASI, serta stres dan kurang tidur. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan bakteri baik di usus, sehingga daya tahan tubuh anak ikut menurun. Padahal, bakteri baik memiliki peran penting dalam menghambat pertumbuhan bakteri jahat, membantu produksi zat antiinflamasi, mendukung pembentukan vitamin tertentu, serta memperkuat dinding usus agar tidak mudah mengalami peningkatan permeabilitas.
Menjaga gut health anak sebenarnya tidak rumit dan dapat dimulai dari dapur rumah. Orang tua dapat memprioritaskan makanan rumah (homemade food) yang lebih segar, minim zat aditif, dan kandungan gizinya lebih terkontrol, baik untuk anak MPASI maupun anak yang sudah mengonsumsi makanan keluarga. Untuk memberikan rasa gurih agar anak mau makan, penggunaan bahan alami seperti kaldu dari daging, tulang, dan sayur yang direbus perlahan dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan penyedap dengan zat aditif berlebihan. Selain itu, penting juga memperhatikan asupan gula, garam, dan bahan tambahan pada makanan, serta memvariasikan sumber protein hewani serta serat dari sayur dan buah.

Dalam praktik sehari-hari, tidak semua orang tua memiliki waktu untuk selalu memasak dari nol. Pada kondisi ini, penggunaan kaldu bubuk dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menghadirkan rasa gurih pada makanan anak. Namun, pemilihannya perlu dilakukan dengan cermat. Pastikan kaldu yang digunakan memiliki kandungan alami, minim zat tambahan, serta digunakan secukupnya sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan segar. Dengan cara ini, orang tua tetap dapat menyajikan makanan yang mendukung kesehatan pencernaan anak tanpa harus bergantung pada makanan instan atau ultra-proses.
Pura Family, gut health adalah fondasi penting bagi imunitas anak. Usus yang sehat membantu anak melawan infeksi, mengurangi risiko sakit berulang, dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Mari kita dukung kesehatan anak dengan pola makan alami, seimbang, minim UPF, dan lebih bijak dalam memilih bahan makanan sehari-hari. Langkah kecil dari dapur rumah hari ini dapat menjadi investasi besar bagi kesehatan anak di masa depan.
.png)
Whatsapp: 08175788899
Instagram: PURAindonesia
Instagram: PURAkitchen
Youtube: PURA Kitchen