Cara membiasakan anak makan real food sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan mengganti seluruh makanan yang sudah dikenalnya sekaligus. Lakukan langkah-langkah berikut, meliputi:
Banyak orang tua ingin anak lebih terbiasa dengan makanan utuh, tetapi perubahan menu yang terlalu cepat justru dapat membuat anak semakin menolak makanan baru. Karena itu, proses pengenalan sebaiknya dimulai dari kebiasaan makan yang sudah terbentuk, lalu dikembangkan sedikit demi sedikit sesuai respons dan kemampuan anak.
Dalam artikel ini, real food merujuk pada menu yang lebih banyak menggunakan bahan pangan utuh atau minim proses, seperti sayuran, buah, telur, ikan, ayam, daging, umbi, dan biji-bijian. Transisi tidak perlu dilakukan sekaligus karena anak membutuhkan waktu untuk mengenal rasa, aroma, bentuk, dan tekstur yang berbeda.
Mulailah dengan memetakan makanan yang sudah diterima anak sebelum menentukan bahan baru. Perhatikan bukan hanya jenis makanan, tetapi juga rasa, tekstur, bentuk, suhu, dan cara penyajiannya.
|
Makanan yang diterima |
Rasa dominan |
Tekstur |
Cara penyajian |
Bahan baru yang dapat diperkenalkan |
|
Ayam goreng |
Gurih |
Renyah |
Potongan kecil |
Ayam panggang |
|
Kentang goreng |
Gurih |
Renyah di luar |
Stik |
Kentang panggang |
|
Telur dadar |
Gurih |
Lembut |
Potongan |
Telur dengan sayur cincang |
|
Pisang |
Manis |
Lembut |
Potongan |
Pepaya atau buah lembut lain |
|
Sup ayam |
Gurih |
Lembut dan berkuah |
Mangkuk |
Tambahan sayuran baru |
Saat mengenalkan makanan baru, pertahankan satu rasa, bentuk, tekstur, atau makanan yang sudah familiar. Untuk anak yang sudah makan menu keluarga, bumbu dapat menjadi jembatan rasa selama digunakan sesuai usia dan kebutuhan.
Namun, jangan membuat bumbu terlalu kuat hingga rasa asli bahan selalu tertutup; perhatikan pula komposisi, gula, dan natrium dari produk yang digunakan.
Mengubah satu unsur terlebih dahulu membuat orang tua lebih mudah melihat bagian mana yang sebenarnya diterima atau ditolak anak. Perubahan dapat dilakukan pada bahan, tekstur, bentuk, atau rasa.
|
Menu awal |
Unsur yang dipertahankan |
Satu perubahan |
Tahap berikutnya |
|
Nugget ayam |
Rasa gurih |
Ayam cincang dengan bumbu familier |
Potongan ayam dengan bumbu serupa |
|
Minuman rasa buah |
Rasa buah |
Kombinasikan dengan buah asli |
Buah potong dan air putih |
|
Keripik kentang |
Bahan kentang |
Kentang panggang |
Kentang kukus atau olahan rumahan |
|
Camilan manis |
Rasa manis |
Buah dengan pendamping familier |
Buah tanpa tambahan |
Alur tersebut bukan tahapan wajib untuk setiap anak. Jika satu perubahan belum diterima, kembali ke tahap yang nyaman dan coba lagi pada kesempatan lain.
Penolakan pertama tidak otomatis menjadikan anak tidak menyukai makanan tersebut. Anak membutuhkan beberapa kali kesempatan untuk melihat, mengenali, dan mencoba rasa, aroma, bentuk, maupun tekstur makanan baru.
WHO menjelaskan bahwa repeated exposure, role modelling, suasana makan keluarga yang menyenangkan, serta tidak menekan anak untuk makan sebagai beberapa komponen dalam responsive feeding. Artinya, orang tua dapat menawarkan makanan baru kembali secara bertahap sambil menjaga pengalaman makan tetap positif, tanpa menuntut anak langsung mencicipi atau menghabiskannya.
Saat mengenalkan makanan baru:

Setelah satu bahan mulai diterima, kenalkan cara penyajian lain sesuai usia dan kemampuan makan anak. Satu bahan yang ditolak dalam bentuk tertentu belum tentu akan selalu ditolak.
Contohnya, wortel dapat dikenalkan sebagai:
Tujuannya adalah memperluas pengalaman anak terhadap bahan yang sama, bukan mengganti bentuk makanan setiap kali anak menolak.

Rutinitas membantu anak mengetahui kapan waktunya makan dan kapan waktunya berhenti. Makan bersama keluarga juga memberi kesempatan anak melihat orang tua menikmati berbagai makanan.
WHO merekomendasikan responsive feeding dengan mengenali dan merespons tanda lapar serta kenyang anak. Untuk usia 6–23 bulan, WHO juga menyarankan konsistensi dan variasi makanan ditingkatkan secara bertahap sesuai perkembangan anak.
Orang tua dapat:
Menu keluarga juga tidak selalu harus dimasak terpisah. Bahan dasarnya dapat sama, kemudian tekstur serta bumbunya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Baca juga panduan menyesuaikan menu anak dan dewasa.
Keterlibatan membuat anak lebih familiar dengan makanan bahkan sebelum mencicipinya. Berikan aktivitas sederhana yang sesuai dengan usia dan tetap dalam pengawasan.
Anak dapat membantu memilih satu dari dua sayuran, mencuci bahan, memindahkan bahan ke wadah, mengaduk bahan yang aman, atau menata makanan di piring.
Jangan menjadikan keterlibatan sebagai syarat bahwa anak harus memakan hasilnya. Tujuan awalnya adalah memperbanyak interaksi positif dengan makanan.
Perkembangan tidak hanya terlihat dari piring yang habis. Kemajuan dapat berupa anak mulai bersedia melihat, menyentuh, mencium, atau mencicipi makanan baru.
Beberapa indikator yang dapat diamati:
Namun, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten jika masalah makan disertai penurunan atau gangguan pertambahan berat badan, kesulitan mengunyah atau menelan, tersedak berulang, muntah berulang, nyeri saat makan, atau pilihan makanan yang sangat terbatas.
Masalah makan pada anak dapat berkaitan dengan pertumbuhan, kesehatan, kemampuan makan, maupun faktor sensorik dan perlu dinilai berdasarkan penyebabnya.
Proses mengenalkan makanan baru dapat semakin sulit jika anak merasa waktu makan sebagai situasi penuh tekanan. Hindari beberapa kebiasaan berikut:
Berikut beberapa pertanyaan umum mengenai cara membangun kebiasaan makan anak secara bertahap.
Tidak ada jumlah yang menjamin penerimaan. Tawarkan kembali tanpa tekanan sambil mengamati respons anak; bukti penelitian mendukung repeated exposure, tetapi kebutuhan setiap anak dapat berbeda.
Tidak. Makanan yang sudah diterima dapat dipertahankan sebagai unsur familier sambil mengenalkan satu bahan atau perubahan baru.
Bisa sesuai usia dan kebutuhan anak. Gunakan secukupnya agar anak tetap mengenali rasa bahan utama serta periksa komposisi dan informasi gizi bumbu.
Tidak selalu. Lihat variasi makanan lain yang masih diterima, perkembangan anak, dan apakah pola penolakan mengganggu kecukupan makan atau pertumbuhannya.
Tidak selalu. Bahan dasar keluarga dapat sama, kemudian bentuk, tekstur, ukuran potongan, dan bumbunya disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak.
Jika anak sudah memiliki makanan yang diterima, jangan mengganti semuanya sekaligus. Pertahankan satu unsur familier, kenalkan satu perubahan kecil, kemudian tawarkan kembali tanpa tekanan.
Nilai perkembangan dari semakin luasnya interaksi dan variasi makanan yang diterima, bukan dari keberhasilan menghabiskan menu baru dalam satu kali makan. Jika penolakan mulai memengaruhi pertumbuhan, proses menelan, atau membuat pilihan makanan sangat terbatas, cari bantuan profesional.
Saat anak sudah mulai mengonsumsi menu keluarga, orang tua dapat melengkapi bahan pangan utuh dengan bumbu yang komposisinya jelas dan digunakan secukupnya. PURA menghadirkan PURA Kecap Manis yang dibuat dari gula kelapa, air, gula aren, PURA Sea Salt, dan rempah. Kenali pilihan bumbu alami untuk membantu keluarga menyiapkan menu harian dengan rasa yang tetap familier tanpa harus menutupi rasa asli bahan makanan.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia