
Article Written by:
dr. Magdalena Rusady Goey, MRes, SpA
Medical Educator PURA
Bolehkah busui puasa? Ini salah satu pertanyaan yang paling banyak dicari ibu menyusui setiap kali Ramadan tiba.
“Dok, kalau aku puasa, ASI-ku bisa seret nggak?”
“Busui boleh puasa atau sebaiknya tidak?”
Pertanyaan ini hampir selalu muncul menjelang Ramadan dan wajar. Ibu menyusui memegang dua amanah sekaligus: ibadah dan kebutuhan nutrisi si kecil.
Kabar baiknya, banyak ibu menyusui tetap bisa berpuasa dengan aman. Tapi ada juga kondisi tertentu yang membuat puasa lebih baik ditunda demi menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Artikel ini membahas panduan dari sisi medis, tanda bahaya yang perlu dipantau — termasuk kapan bayi demam berkaitan dengan puasa ibu — serta strategi nutrisi dan hidrasi agar puasa lebih aman untuk ibu menyusui.
Dalam Islam, ibu menyusui boleh berpuasa, namun juga mendapat keringanan untuk tidak berpuasa bila khawatir puasa membahayakan dirinya atau bayinya.
Intinya: tidak hitam putih. Keputusan bisa berbeda pada setiap ibu, tergantung kondisi tubuh dan kondisi bayi.
Catatan: jika kamu ragu soal konsekuensi penggantiannya (qadha/fidyah), sebaiknya konsultasikan dengan ustaz/ustazah sesuai rujukan yang kamu ikuti, karena detailnya bisa berbeda pendapat.

Produksi ASI dipengaruhi oleh beberapa hal utama:
Puasa umumnya tidak “menghentikan” ASI secara mendadak, tetapi pada sebagian ibu dapat terjadi:
ASI bekerja dengan prinsip supply demand: semakin sering payudara dikosongkan, tubuh terdorong untuk memproduksi.
Puasa cenderung lebih aman bila:
Kalau bayi sedang sakit, puasa biasanya lebih berisiko, karena kebutuhan cairan dan energi bisa meningkat.

Ini bagian paling penting, karena “aman atau tidaknya” puasa pada busui sering terlihat dari sinyal tubuh.
Kalau salah satu tanda ini muncul: buka puasa.
Itu bukan “kalah”, itu bentuk tanggung jawab.
Salah satu yang paling sering ditanyakan ibu menyusui soal tanda bahaya ini adalah demam pada bayi, dan apakah itu ada kaitannya dengan puasa yang sedang ibu jalani.
Penting untuk dipahami: puasa yang dijalankan ibu dengan benar tidak secara langsung menyebabkan demam pada bayi. Demam pada bayi dan puasa ibu sering terjadi berbarengan waktu, tapi penyebabnya biasanya berbeda.
Penyebab demam bayi yang sering bertepatan dengan waktu ibu puasa:
Yang perlu dilakukan bila bayi demam saat ibu sedang puasa:
Singkatnya: demam bayi bukan alasan untuk panik soal puasa ibu, tapi tetap sinyal untuk lebih waspada memantau kondisi bayi dan diri sendiri.
Banyak kasus “ASI terasa turun” saat puasa bukan karena puasanya saja, tetapi karena:
Targetkan 2–3 liter dari maghrib sampai subuh.
Pola simpel yang sering membantu:
Hindari “ngebut minum” sekaligus dekat imsak, karena bisa lebih gampang begah dan tidak efektif.
Sahur ideal untuk busui:
Sahur yang hanya roti + teh manis sering bikin cepat lapar dan cepat “drop”.
Urutan yang aman:

Beberapa tips yang biasanya membantu:
Opsi 1 (simpel):
Opsi 2 (cepat):
Opsi 3 (buat yang mudah lapar):
Pertimbangkan untuk tidak berpuasa bila:
Prinsipnya sederhana: jangan memaksakan puasa sampai mengorbankan keselamatan ibu dan bayi.
Q: Kalau ASI terasa berkurang, harus gimana?
A: Evaluasi 3 hal dulu: minum malam cukup, protein cukup, frekuensi menyusui/pompa terjaga. Jika bayi mulai menunjukkan tanda dehidrasi, buka puasa dan pertimbangkan konsultasi.
Q: Aman nggak puasa saat bayi full ASI (belum MPASI)?
A: Sebagian ibu aman, sebagian lebih rentan “drop”. Kuncinya pantau pipis, rewel, dan aktivitas bayi, serta kondisi ibu.
Q: Boleh minum kopi/teh saat sahur?
A: Boleh, tapi hati-hati kafein bisa membuat sebagian orang lebih sering BAK dan pada sebagian ibu terasa memperparah dehidrasi. Prioritaskan air putih dulu.
Q: Apakah busui boleh puasa kalau anak lagi demam?
A: Boleh dipertimbangkan, tapi perlu ekstra hati-hati. Demam pada bayi biasanya bukan disebabkan puasa ibu, namun bayi sakit butuh ASI lebih sering dan ibu butuh energi lebih untuk merawatnya. Kalau ibu mulai merasa lemas atau ASI menurun, lebih baik buka puasa dulu.
Q: Bayi demam terus setelah ibu mulai puasa, apa itu tandanya harus berhenti?
A: Tidak selalu. Cek dulu apakah ada tanda dehidrasi pada bayi (pipis sedikit, rewel terus, lesu). Kalau ada, sebaiknya buka puasa. Kalau tidak, demam kemungkinan besar dari sebab lain seperti tumbuh gigi atau infeksi ringan, bukan dari puasa ibu.

Ibu menyusui pada dasarnya boleh berpuasa selama kondisi tubuh Anda dan bayi sehat dan stabil, karena Islam memberikan keringanan sehingga keputusan ini bergantung pada kondisi masing-masing, bukan kewajiban mutlak. Selama berpuasa, tetap pantau tanda dehidrasi pada diri sendiri maupun bayi, jaga kualitas asupan saat sahur dan berbuka, dan jangan ragu membatalkan puasa apabila muncul tanda bahaya — termasuk demam pada bayi yang disertai tanda dehidrasi lainnya. Dengan persiapan dan pemantauan yang tepat, banyak ibu menyusui dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman tanpa mengorbankan kualitas ASI maupun kesehatan bayi.
PURA hadir sebagai brand bahan makanan alami yang membantu keluarga memilih produk dapur berkualitas untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk saat momen khusus seperti Ramadan.
Untuk mendukung kualitas sahur dan berbuka Anda selama menyusui, PURA menghadirkan pilihan bumbu dan penyedap alami — mulai dari kaldu non-MSG, garam natural, hingga kecap manis — yang dibuat tanpa MSG, gula tambahan berlebih, dan pengawet sintetis. Pilihan ini membantu Anda menjaga asupan yang lebih bersih selama puasa, sekaligus tetap aman digunakan untuk kebutuhan MPASI si kecil.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia
.png)