Bolehkah Ibu Menyusui Berpuasa? Ini Panduan Aman Busui Saat Ramadan

Bolehkah Ibu Menyusui Berpuasa? Ini Panduan Aman Busui Saat Ramadan

Article Written by:
dr. Magdalena Rusady Goey, MRes, SpA
Medical Educator PURA

 

“Dok, kalau aku puasa, ASI-ku bisa seret nggak?”
“Busui boleh puasa atau sebaiknya tidak?”

Pertanyaan ini hampir selalu muncul menjelang Ramadan dan wajar. Ibu menyusui memegang dua amanah sekaligus: ibadah dan kebutuhan nutrisi si kecil.

Kabar baiknya, banyak ibu menyusui tetap bisa berpuasa dengan aman. Tapi ada juga kondisi tertentu yang membuat puasa lebih baik ditunda demi menjaga kesehatan ibu dan bayi.

Artikel ini membahas panduan dari sisi medis, tanda bahaya yang perlu dipantau, serta strategi nutrisi dan hidrasi agar puasa lebih aman untuk ibu menyusui.

1) Dari Sisi Agama: Busui Ada Keringanan

Dalam Islam, ibu menyusui boleh berpuasa, namun juga mendapat keringanan untuk tidak berpuasa bila khawatir puasa membahayakan dirinya atau bayinya.

Intinya: tidak hitam putih. Keputusan bisa berbeda pada setiap ibu, tergantung kondisi tubuh dan kondisi bayi.

Catatan: jika kamu ragu soal konsekuensi penggantiannya (qadha/fidyah), sebaiknya konsultasikan dengan ustaz/ustazah sesuai rujukan yang kamu ikuti, karena detailnya bisa berbeda pendapat.

 

2) Secara Medis: Apakah Puasa Bisa Menghentikan Produksi ASI?

Produksi ASI dipengaruhi oleh beberapa hal utama:

  • Frekuensi menyusui/pompa
  • Pengosongan payudara yang efektif
  • Asupan cairan dan nutrisi ibu
  • Istirahat dan stres

Puasa umumnya tidak “menghentikan” ASI secara mendadak, tetapi pada sebagian ibu dapat terjadi:

  • Volume ASI berkurang sementara
  • Ibu lebih cepat lelah
  • Risiko dehidrasi meningkat bila asupan cairan kurang saat malam

ASI bekerja dengan prinsip supply demand: semakin sering payudara dikosongkan, tubuh terdorong untuk memproduksi.

3) Siapa yang Biasanya Aman Puasa Saat Menyusui?

Puasa cenderung lebih aman bila:

Kondisi ibu baik

  • Tidak ada tanda dehidrasi
  • Tidak mudah “drop”
  • Tidak sedang sakit/infeksi berat
  • Tidak memiliki kondisi medis yang mengharuskan pola makan teratur (ikuti arahan dokter)

Kondisi bayi stabil

  • Bayi tampak segar dan aktif seperti biasa
  • Berat badan naik dengan baik
  • Tidak sedang diare, demam, atau kondisi yang membuat kebutuhan cairan meningkat

Kalau bayi sedang sakit, puasa biasanya lebih berisiko, karena kebutuhan cairan dan energi bisa meningkat.

 

4) Tanda Bahaya yang Harus Dipantau (Wajib Tahu)

Ini bagian paling penting, karena “aman atau tidaknya” puasa pada busui sering terlihat dari sinyal tubuh.

Tanda dehidrasi pada ibu

  • Pusing atau kepala terasa melayang
  • Lemas berlebihan, gemetar, keringat dingin
  • Mulut sangat kering
  • Urine sangat pekat, jumlahnya sedikit, atau jarang BAK

Tanda dehidrasi pada bayi

  • Bayi rewel terus setelah menyusu (seperti belum puas terus-menerus)
  • Pipis kurang dari 6 kali sehari
  • Bayi tampak lesu, tidak seaktif biasanya
  • Ada bercak oranye/merah muda di popok (kristal urat)

Kalau salah satu tanda ini muncul: buka puasa.
Itu bukan “kalah”, itu bentuk tanggung jawab.

 

5) Cara Aman Puasa untuk Busui: Strategi Praktis

A. Kunci utama: cairan + elektrolit + makan seimbang

Banyak kasus “ASI terasa turun” saat puasa bukan karena puasanya saja, tetapi karena:

  • sahur terlalu sedikit / terlalu manis
  • kurang protein
  • kurang minum
  • tidur kurang
  • stres

B. Target minum yang realistis

Targetkan 2–3 liter dari maghrib sampai subuh.

Pola simpel yang sering membantu:

  • 2 gelas saat berbuka
  • 2 gelas setelah tarawih
  • 2 gelas menjelang tidur
  • 2 gelas saat sahur
  • 1–2 gelas menjelang imsak (opsional, sesuai kondisi lambung)

Hindari “ngebut minum” sekaligus dekat imsak, karena bisa lebih gampang begah dan tidak efektif.

C. Komposisi sahur yang bantu energi stabil

Sahur ideal untuk busui:

  • Protein: telur/ayam/ikan/daging/susu/tempe-tahu
  • Karbo kompleks: nasi merah, oat, ubi, roti gandum
  • Lemak sehat: alpukat, kacang-kacangan
  • Serat & mineral: sayur hijau, buah secukupnya
  • Kuah/kaldu alami: bantu cairan + mineral

Sahur yang hanya roti + teh manis sering bikin cepat lapar dan cepat “drop”.

D. Pilihan berbuka yang tidak “menjatuhkan energi”

Urutan yang aman:

  1. Air putih
  2. Kurma secukupnya / buah secukupnya
  3. Makan utama seimbang: protein + sayur + karbo
  4. Gorengan/manis boleh, tapi jangan jadi menu utama

 

6) Menyusui Saat Puasa: Atur Ritme Biar Tubuh Kebaca

Beberapa tips yang biasanya membantu:

  • Tetap susui/pompa sesuai jadwal (jangan “ditahan”)
  • Bila terasa lemas, kurangi aktivitas berat siang hari
  • Tidur siang 20–40 menit bila memungkinkan
  • Fokus “penguatan malam”: cairan, protein, dan makan yang benar

7) Contoh Menu Sahur untuk Busui (Praktis dan “Ngisi”)

Opsi 1 (simpel):

  • Nasi merah / ubi
  • Telur dadar + tempe
  • Tumis bayam / brokoli
  • Sup ayam dengan kuah hangat

Opsi 2 (cepat):

  • Oat + susu + pisang
  • Telur rebus
  • Air putih yang cukup

Opsi 3 (buat yang mudah lapar):

  • Nasi + ayam/ikan
  • Sayur bening
  • Alpukat/kacang secukupnya

8) Kapan Busui Sebaiknya Tidak Berpuasa?

Pertimbangkan untuk tidak berpuasa bila:

  • Produksi ASI sudah rendah sejak awal
  • Berat badan bayi sulit naik / ada catatan khusus dari dokter
  • Ibu sering pusing/hipotensi/cepat “drop”
  • Bayi menunjukkan tanda dehidrasi atau sedang sakit (demam/diare)
  • Ada kondisi medis yang membuat puasa tidak dianjurkan (ikuti arahan dokter)

Prinsipnya sederhana: jangan memaksakan puasa sampai mengorbankan keselamatan ibu dan bayi.

9) FAQ Singkat (Pertanyaan yang Sering Muncul)

Q: Kalau ASI terasa berkurang, harus gimana?
A: Evaluasi 3 hal dulu: minum malam cukup, protein cukup, frekuensi menyusui/pompa terjaga. Jika bayi mulai menunjukkan tanda dehidrasi, buka puasa dan pertimbangkan konsultasi.

Q: Aman nggak puasa saat bayi full ASI (belum MPASI)?
A: Sebagian ibu aman, sebagian lebih rentan “drop”. Kuncinya pantau pipis, rewel, dan aktivitas bayi, serta kondisi ibu.

Q: Boleh minum kopi/teh saat sahur?
A: Boleh, tapi hati-hati kafein bisa membuat sebagian orang lebih sering BAK dan pada sebagian ibu terasa memperparah dehidrasi. Prioritaskan air putih dulu.

Penutup: Puasa Busui Itu Personal, Bukan Adu Kuat

Puasa bagi ibu menyusui bukan lomba kuat-kuatan.
Ini keputusan yang sangat personal—dan sangat mulia.

Islam memberi ruang. Tubuh memberi sinyal.
Dan prioritas kita tetap: kesehatan ibu dan bayi.

Kalau hari ini kamu harus batal demi anakmu, itu bukan gagal.
Itu juga bentuk ibadah.

Karena menjadi ibu… juga bagian dari penghambaan.

Kalau kamu memutuskan tetap berpuasa, ingat: “kunci aman” busui biasanya bukan sekadar kuat menahan lapar, tetapi seberapa baik kualitas makan saat sahur dan berbuka. Karena di waktu makan yang terbatas, tubuh perlu asupan yang benar-benar berisi, agar energi lebih stabil dan kebutuhan menyusui tetap terbantu.

Dan sering kali, yang membuat ibu bisa makan lebih baik itu sederhana: masakan yang rasanya enak, hangat, dan tidak bikin enek, jadi ibu lebih mudah memenuhi kebutuhan protein, sayur, dan cairan.

Untuk bagian ini, kamu bisa pilih bumbu dapur yang praktis tapi tetap tenang dipakai setiap hari. PURA hadir sebagai pilihan bumbu dapur 100% natural, asli, dan alami, tanpa tambahan yang tidak perlu. Cocok untuk jadi andalan masak sahur maupun berbuka, membantu ibu menjaga kualitas makan selama puasa, yang pada akhirnya berhubungan juga dengan kualitas menyusui.

Kalau kamu ingin yang simpel: mulai dari satu perubahan kecil dulu pastikan sahur dan berbuka mu benar-benar berkualitas. Karena ketika ibu terjaga, insyaAllah si kecil juga ikut terjaga.