Tiga kebiasaan konsumsi yang perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan untuk mengurangi risiko kanker adalah:
Menu yang kita makan setiap hari sering kali tidak jauh berbeda. Ada yang terbiasa menyiapkan sosis untuk sarapan, membeli minuman manis saat makan siang, atau menambahkan beberapa jenis bumbu asin ke dalam satu masakan. Jika terus berulang, kebiasaan tersebut ikut membentuk pola makan jangka panjang.
Dalam momentum Pink Month, menjaga kesehatan bukan hanya berkaitan dengan mengenali perubahan pada payudara, tetapi juga memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Meski begitu, Anda perlu memahami ketiga kebiasaan makan yang bisa menyebabkan kanker, terutama kanker payudara.
Berikut tiga kebiasaan konsumsi yang perlu diperhatikan, konteks risikonya, dan perubahan sederhana yang dapat dimulai di rumah.
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran dokter atau ahli gizi. Pola makan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi risiko kanker, tetapi tidak menjamin seseorang terhindar dari penyakit tersebut.
Daging olahan seperti sosis, ham, bacon, dan daging yang diawetkan adalah daging yang telah melalui proses seperti penggaraman, pengasapan, fermentasi, atau pengawetan lainnya untuk meningkatkan rasa maupun daya simpan.
Tidak semua daging yang dipotong, digiling, atau dibekukan termasuk daging olahan. Misalnya, daging ayam segar yang disimpan dalam freezer tetap tergolong daging segar selama tidak melalui proses pengawetan seperti penggaraman atau pengasapan.
Menurut World Health Organization (WHO), analisis terhadap sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi 50 gram daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal sekitar 18%. Angka tersebut menggambarkan hubungan antara pola konsumsi harian dan risiko kanker usus besar atau rektum.
Bukan berarti seseorang langsung mengalami peningkatan risiko sebesar 18% setelah sekali makan sosis, namun angka 50 gram juga bukan batas aman yang menjamin seseorang terbebas dari risiko jika mengonsumsi lebih sedikit.
Jika sosis atau daging olahan sering menjadi lauk praktis, cobalah mengganti sebagian jadwal makan dengan pilihan lain.
Perubahan kecil seperti mengganti sosis dengan telur atau tempe pada beberapa menu sarapan dapat menjadi langkah awal.
Kalau hampir setiap hari minum teh manis, kopi dengan gula atau sirup, maupun minuman kemasan, asupan gula harian bisa bertambah tanpa disadari.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya rasa manisnya, tetapi juga ukuran sajian dan frekuensi konsumsi. Minuman berukuran besar atau beberapa gelas dalam sehari dapat membuat asupan gula bertambah tanpa disadari.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity pada 2023 menemukan bahwa tambahan konsumsi minuman berpemanis sebanyak 250 ml per hari dikaitkan dengan risiko relatif kanker payudara sekitar 17% lebih tinggi.
Namun, kepastian bukti untuk temuan tersebut tergolong rendah. Artinya, hasil penelitian belum cukup untuk menyimpulkan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker payudara.
World Cancer Research Fund (WCRF) juga menjelaskan bahwa mengonsumsi minuman berpemanis dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan. Kelebihan berat badan sendiri berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker.
Mengurangi minuman manis tidak harus dilakukan sekaligus. Anda bisa memulainya dari kebiasaan yang paling sering dilakukan.
Jus buah juga tetap perlu diperhatikan porsinya. Meskipun berasal dari buah, jus bukan berarti boleh diminum tanpa batas sebagai pengganti air putih.
Asupan natrium tidak hanya berasal dari garam yang ditambahkan saat memasak. Kecap, saus, kaldu berbumbu, makanan kemasan, dan berbagai bumbu siap pakai juga dapat menyumbang natrium.
Karena itu, masakan yang hanya menggunakan sedikit garam belum tentu rendah natrium jika masih ditambahkan beberapa bumbu asin sekaligus.
Penelitian Wu dkk. (2021) dalam Frontiers in Nutrition menemukan bahwa kelompok dengan konsumsi garam tinggi memiliki risiko relatif kanker lambung sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi rendah.
Angka ini menunjukkan perbandingan antar kelompok di dalam penelitian, bukan efek langsung dari sekali makan makanan asin. Kategori konsumsi tinggi dan rendah juga mengikuti ketentuan masing-masing penelitian yang dianalisis.
WHO menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam. Jumlah tersebut mencakup natrium dari seluruh makanan dan bumbu, bukan hanya garam dapur.
Menurut WHO dalam Sodium Reduction, pengurangan asupan natrium merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan. Namun, angka tersebut merupakan pedoman kesehatan umum, bukan sebatas menjamin seseorang bebas dari kanker.
Untuk mengendalikan asupan natrium, berikut beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan:
Saat membandingkan garam dan bumbu, perhatikan kandungan natrium berdasarkan takaran yang setara. Jangan hanya melihat angka pada kemasan, tetapi hitung juga jumlah bumbu yang digunakan dalam satu masakan.
Untuk penerapannya, Anda bisa membaca panduan cara menggunakan kaldu pada bahan yang sudah memiliki rasa gurih agar penggunaan bumbu lebih sesuai dengan rasa alami bahan masakan.
Angka peningkatan risiko dalam penelitian sering disalahartikan sebagai peluang seseorang terkena kanker. Padahal, risiko relatif dan peluang awal merupakan dua hal berbeda.
Misal, jika risiko awal suatu kelompok adalah 5%, peningkatan risiko relatif sebesar 18% akan menghasilkan risiko sekitar 5,9%, bukan 23%.
Ketiga penelitian yang dibahas juga memiliki konteks berbeda, seperti terlihat pada tabel berikut.
|
Kebiasaan Konsumsi |
Jenis Kanker |
Konteks Angka |
|
Daging olahan |
Kolorektal |
Risiko relatif meningkat sekitar 18% per 50 gram konsumsi harian. |
|
Minuman berpemanis |
Payudara |
Risiko relatif sekitar 17% lebih tinggi per tambahan 250 ml sehari; kepastian bukti rendah. |
|
Asupan garam tinggi |
Lambung |
Risiko relatif sekitar 25% lebih tinggi pada kelompok konsumsi tinggi dibandingkan rendah. |
Jenis kanker, pola konsumsi, serta kekuatan bukti penelitiannya berbeda. Oleh karena itu, angka-angka tersebut tidak dapat dijumlahkan atau digunakan untuk menghitung risiko kanker seseorang.
Mengubah pola makan tidak harus berarti mengganti seluruh isi dapur. Mulailah dari makanan atau minuman yang paling sering dikonsumsi, lalu pilih perubahan yang realistis untuk dijalankan.
Tabel berikut bisa digunakan sebagai panduan sederhana.
|
Kebiasaan Saat Ini |
Perubahan yang Bisa Dicoba |
|
Sering menggunakan daging olahan sebagai lauk |
Variasikan dengan telur, tahu, tempe, ayam, atau ikan. |
|
Memesan minuman manis setiap makan |
Pilih air putih pada sebagian besar waktu makan. |
|
Menambahkan garam sebelum mencicipi |
Cicipi setelah seluruh bumbu tercampur. |
|
Menggunakan beberapa bumbu asin sekaligus |
Sesuaikan takaran dan perhatikan total natriumnya. |
|
Jarang memasak karena persiapannya panjang |
Siapkan bahan sup atau tumisan dalam porsi siap masak. |
Menu sederhana seperti sup ayam sayuran, tumis tahu dan brokoli, atau ikan dengan bawang serta rempah bisa menjadi pilihan untuk variasi masakan rumah.
PURA Kaldu juga dapat digunakan sebagai pelengkap rasa dalam masakan tersebut. Tetap ikuti petunjuk kemasan dan perhatikan kandungan natriumnya bersama bumbu lain yang digunakan.
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul saat membahas makanan dan risiko kanker.
Tidak. Angka dalam penelitian menggambarkan hubungan pola konsumsi dengan risiko pada kelompok yang diteliti. Angka tersebut bukan kepastian bahwa satu kali makan daging olahan langsung menyebabkan kanker.
Tidak. Daging yang hanya dibekukan tanpa proses pengawetan lainnya tidak otomatis termasuk kategori daging olahan menurut WHO/IARC. Periksa proses pengolahan dan komposisi produknya.
Belum tentu. Kandungan natrium setiap produk dan takaran penggunaannya berbeda. Periksa label kemasan dan hitung total natrium dari seluruh bumbu yang ditambahkan.
Tidak. Bukti yang dibahas mencakup kanker kolorektal, payudara, dan lambung. Pembahasan ini merupakan bagian dari edukasi Pink Month, tetapi tidak berarti ketiga kebiasaan memiliki hubungan yang sama dengan kanker payudara.
Membatasi daging olahan, minuman berpemanis, serta asupan garam dan natrium berlebihan merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pola makan sehari-hari. Ketiganya memiliki kaitan dengan risiko kanker yang berbeda, sehingga angka penelitiannya perlu dipahami sesuai konteks.
Anda tidak harus mengubah seluruh menu sekaligus. Mulailah dengan memvariasikan lauk, lebih sering memilih air putih, dan memperhatikan bumbu saat memasak. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pola hidup sehat, meskipun tidak dapat menjamin seseorang terhindar dari kanker.PURA
Mulai variasikan menu harian dengan sayuran dan sumber protein yang beragam. Berangkat dari komitmen menghadirkan produk makanan alami berkualitas, menyediakan pilihan bumbu untuk melengkapi kebutuhan memasak sehari-hari. Salah satunya PURA Kaldu yang dapat digunakan sebagai pelengkap rasa untuk sup, tumisan, dan berbagai masakan rumahan. Gunakan secukupnya sesuai petunjuk kemasan dan tetap perhatikan total natrium dari seluruh bumbu yang digunakan.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: [email protected]
Instagram: @puraindonesia
Referensi