Ikan tidak perlu dihindari hanya karena adanya risiko paparan logam berat. Ikan tetap menyediakan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang penting bagi anak. Orang tua perlu memilih jenis ikan yang lebih rendah merkuri, menyesuaikan porsi dengan usia, memvariasikan sumber protein, serta memeriksa komposisi dan informasi keamanan ketika memilih produk olahan berbahan ikan.
Kekhawatiran tentang logam berat pada ikan sering kali mencampurkan dua hal yang berbeda, yaitu paparan timbal pada anak dan paparan merkuri dari ikan. Padahal, sumber dan pola paparannya tidak sama.
Artikel ini akan membantu Ibu memahami perbedaan timbal dan merkuri, alasan ikan tetap dapat menjadi bagian dari menu anak, serta hal yang perlu diperiksa ketika memilih ikan maupun produk berbahan ikan.
Catatan: Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau saran tenaga kesehatan. Jika anak diduga mengalami paparan logam berat atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan dan tindakan yang diperlukan.
Paparan timbal pada anak memang menjadi masalah yang perlu diperhatikan di Indonesia. Namun, data mengenai tingginya kadar timbal darah tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa ikan merupakan sumber utama paparannya.
Policy Brief Childhood Blood Lead Surveillance in Indonesia dari Vital Strategies yang diterbitkan pada 2026, melaporkan hasil surveilans terhadap lebih dari 1.500 anak usia 12–59 bulan di 12 kabupaten/kota. Sekitar 15% atau 1 dari 7 anak yang diperiksa memiliki kadar timbal darah di atas 5 µg/dL. Temuan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan paparan, seperti cat yang mengelupas di rumah, pekerjaan orang tua yang berhubungan dengan timbal, penggunaan peralatan masak berbahan logam, dan penggunaan bedak kosmetik.
Sebelumnya, UNICEF bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Vital Strategies, dan Pure Earth memperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas 5 µg/dL. Sumber utama paparan timbal yang telah diketahui di Indonesia antara lain cat berbasis timbal dan proses daur ulang aki bekas.
Timbal dan merkuri sama-sama dapat membahayakan kesehatan pada tingkat paparan tertentu, tetapi sumber dan pola paparannya berbeda. Dalam konteks konsumsi ikan, perhatian lebih sering diberikan pada metilmerkuri.
Perbedaan dasarnya dapat dilihat pada tabel berikut.
|
Aspek |
Timbal |
Merkuri |
|
Jenis |
Logam toksik |
Logam yang dapat berada dalam beberapa bentuk, termasuk metilmerkuri |
|
Sumber paparan |
Dapat berasal dari cat, debu, tanah, air, industri, daur ulang aki, dan barang konsumsi tertentu |
Dapat dilepaskan ke lingkungan dari berbagai sumber alami maupun aktivitas manusia |
|
Hubungan dengan pangan |
Pangan dapat terpapar dari lingkungan atau proses tertentu |
Metilmerkuri dapat terakumulasi pada ikan dan organisme air |
|
Risiko bagi anak |
Dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf |
Paparan tertentu dapat memengaruhi sistem saraf, terutama pada masa perkembangan |
|
Mengurangi paparan |
Mengidentifikasi berbagai sumber timbal di lingkungan |
Memilih ikan yang lebih rendah merkuri dan mengikuti anjuran konsumsi |
Mengurangi paparan timbal tidak cukup dilakukan dengan menghindari satu jenis makanan. Timbal dapat berada di berbagai bagian lingkungan tempat anak hidup dan beraktivitas.
WHO menjelaskan bahwa sumber pencemaran timbal dapat berkaitan dengan pertambangan, peleburan, kegiatan manufaktur dan daur ulang, cat berbasis timbal, pipa atau sambungan yang mengandung timbal, serta berbagai barang konsumsi.
Karena sumbernya beragam, kekhawatiran terhadap paparan timbal pada anak sebaiknya diarahkan pada identifikasi sumber paparan secara menyeluruh, bukan otomatis dengan menghilangkan ikan dari menu.
Merkuri bisa saja berada dalam beberapa bentuk, salah satunya metilmerkuri, yaitu bentuk organik merkuri yang dapat masuk dan terakumulasi dalam organisme air. Saat organisme kecil yang telah mengandung metilmerkuri dimakan oleh ikan lain, zat tersebut dapat berpindah melalui rantai makanan dan semakin terkonsentrasi pada tingkat rantai makanan yang lebih tinggi.
Proses tersebut dikenal sebagai bioakumulasi ketika zat menumpuk dalam tubuh organisme dari waktu ke waktu dan biomagnifikasi ketika konsentrasinya meningkat pada tingkat rantai makanan yang lebih tinggi. Karena itu, ikan predator berukuran besar dan berumur panjang cenderung menjadi perhatian lebih besar dibandingkan berbagai jenis ikan yang lebih rendah merkuri.

Paparan timbal maupun merkuri pada tingkat tertentu dapat berdampak pada sistem saraf anak yang masih berkembang. Namun, risiko tersebut tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu kali konsumsi ikan atau satu jenis makanan. Karena dampak bergantung pada jenis zat, tingkat, dan pola paparan, langkah yang lebih tepat adalah mengurangi sumber paparan yang dapat dikendalikan sambil tetap menjaga kecukupan gizi anak.
Ikan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan anak karena menyediakan protein, asam lemak sehat, vitamin, dan mineral. Jadi, fokusnya bukan menghilangkan ikan, melainkan memilih jenis dan porsinya dengan tepat.
FDA dan EPA merekomendasikan anak mengonsumsi dua porsi ikan per minggu dari kelompok “Best Choices” yang lebih rendah merkuri. Ukuran rata-rata satu porsi disesuaikan dengan usia, yaitu sekitar 1 ons untuk usia 1–3 tahun, 2 ons untuk 4–7 tahun, 3 ons untuk 8–10 tahun, dan 4 ons untuk usia 11 tahun ke atas.
Panduan tersebut merupakan anjuran konsumsi ikan yang lebih rendah merkuri, bukan berarti semua jenis ikan dapat diberikan dalam jumlah dan frekuensi yang sama.
Cara memilih ikan untuk anak dapat dimulai dengan memprioritaskan jenis yang masuk kelompok lebih rendah merkuri. Berdasarkan panduan FDA, beberapa pilihan dalam kategori “Best Choices” antara lain:
Sebaliknya, FDA memasukkan beberapa ikan dengan kadar merkuri tertinggi, seperti king mackerel, marlin, orange roughy, hiu, swordfish, tilefish dari Teluk Meksiko, dan bigeye tuna, dalam kelompok “Choices to Avoid”.
Untuk ikan hasil tangkapan sendiri, perhatikan pula informasi atau peringatan keamanan dari wilayah tempat ikan ditangkap karena tingkat kontaminan dapat berbeda menurut perairannya.
Anak tidak harus mengonsumsi jenis ikan yang sama setiap hari. FDA juga menganjurkan konsumsi ikan yang bervariasi daripada hanya memilih jenis yang sama berulang kali.
Dalam menu sehari-hari, Ibu dapat mengganti jenis ikan rendah merkuri dan mengombinasikannya dengan ayam, telur, daging, tahu, tempe, maupun sumber protein lain yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak. Dengan begitu, variasi makanan tetap terjaga tanpa harus menghindari ikan sepenuhnya.
Produk berbahan ikan juga perlu diperiksa berdasarkan informasi pada kemasan dan dokumen pendukungnya, bukan hanya gambar ikan atau klaim pada bagian depan produk.
Sebelum membeli, perhatikan:
Kriteria tersebut membantu Ibu membedakan informasi yang dapat diverifikasi dari klaim pemasaran yang belum memiliki keterangan pendukung.

Berdasarkan informasi resmi PURA, PURA Kaldu Salmon menggunakan ekstrak ikan salmon 82%, ekstrak ikan teri 10%, PURA Sea Salt, bawang bombai, ekstrak ragi, dan lada. PURA juga menyebutkan bahwa salmon yang digunakan merupakan Atlantic salmon air laut.
Meskipun berbahan ikan, PURA Kaldu Salmon tetap digunakan sebagai bumbu untuk menambah rasa pada masakan, bukan sebagai pengganti porsi ikan atau sumber protein utama anak.
Untuk memahami perbedaannya lebih lanjut, Ibu dapat membaca artikel mengenai fungsi kaldu bubuk dalam MPASI dan tetap memeriksa komposisi, informasi alergen, kandungan natrium, serta takaran penggunaan pada kemasan.
Berdasarkan hasil pengujian yang dimiliki PURA, untuk PURA Kaldu Salmon, arsen (As), kadmium (Cd), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan timah (Sn) memperoleh hasil “not detected” atau tidak terdeteksi pada pengujian tersebut. Batas deteksi yang tercantum masing-masing adalah 0,0002 mg/kg untuk arsen, 0,0005 mg/kg untuk kadmium, 0,0005 mg/kg untuk merkuri, 0,001 mg/kg untuk timbal, dan 0,0015 mg/kg untuk timah.
Hasil “not detected” perlu dipahami sesuai batas deteksi metode pengujian. Artinya, kelima parameter tersebut tidak terdeteksi hingga batas deteksi yang tercantum dalam laporan, bukan berarti dapat disimpulkan bahwa kadarnya secara absolut nol.
Informasi seperti ini penting diperiksa ketika sebuah produk berbahan ikan mencantumkan klaim terkait merkuri atau logam berat. Selain melihat hasilnya, perhatikan jenis logam yang diuji dan batas deteksinya agar klaim keamanan tidak ditafsirkan lebih luas daripada hasil pengujian yang tersedia.
Untuk mempermudah pemilihan ikan maupun produk berbahan ikan untuk anak, gunakan langkah berikut:
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika orang tua mempertimbangkan keamanan ikan untuk anak.
Tidak tepat menyimpulkan bahwa makan ikan otomatis menurunkan IQ anak. Kekhawatiran kesehatan berkaitan dengan paparan logam berat pada tingkat tertentu, sedangkan ikan yang lebih rendah merkuri tetap menyediakan berbagai zat gizi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tidak. Kadar merkuri berbeda antarjenis ikan dan dipengaruhi antara lain oleh posisi ikan dalam rantai makanan, ukuran, umur, serta lingkungan hidupnya. Karena itu, FDA membagi ikan ke dalam kategori berdasarkan tingkat merkurinya.
FDA merekomendasikan anak mengonsumsi dua porsi per minggu dari berbagai ikan dalam kategori “Best Choices”, dengan ukuran porsi yang disesuaikan menurut usia dan berat badan.
Tidak. Merkuri pada ikan terutama berada di dalam jaringan sehingga tidak dapat dihilangkan hanya dengan mencuci atau memasaknya. Karena itu, pemilihan jenis ikan merupakan langkah yang lebih relevan untuk mengurangi paparan.
Ya. Salmon termasuk dalam kategori “Best Choices” pada panduan FDA mengenai pemilihan ikan berdasarkan kadar merkuri.
Tidak. Kaldu salmon digunakan sebagai bumbu untuk menambah rasa, sedangkan kebutuhan protein anak tetap perlu dipenuhi melalui ikan atau sumber protein lainnya sesuai kebutuhan.
Kekhawatiran terhadap logam berat bukan alasan untuk langsung menghindari ikan dari menu anak. Paparan timbal memiliki banyak kemungkinan sumber, sedangkan perhatian terhadap ikan lebih sering berkaitan dengan metilmerkuri. Pilih ikan yang lebih rendah merkuri, variasikan sumber protein, sesuaikan porsinya dengan usia anak, dan periksa komposisi serta dasar klaim keamanan ketika membeli produk olahan berbahan ikan.
PURA menghadirkan pilihan kaldu masakan berbahan alami dan berkualitas untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. PURA Kaldu Salmon yang menggunakan ekstrak ikan salmon dan ikan teri, dapat dipertimbangkan sebagai bumbu untuk menambah rasa pada masakan setelah Ibu memeriksa komposisi, informasi keamanan, dan petunjuk penggunaannya. Gunakan sesuai fungsi dan takaran pada kemasan, sementara kebutuhan protein anak tetap dipenuhi melalui ikan atau sumber protein lainnya.
WhatsApp: +62817-5788-899
Email: contact@puraindonesia.com
Instagram: @puraindonesia
Referensi